Sunday, June 14, 2009

MAKANANKU SEHARI-HARI (Bk.1, Bab 69)



BAB 69


Ketulusan Pribadi


KRISTUS berkata :


AnakKu, ketika Aku memberimu terang dan kekuatan surgawi, janganlah kamu menjadi sombong dan berpuas diri. Ingatlah betapa lemahnya dan menyedihkannya dirimu itu jika kamu tak memiliki karunia-karunia itu. Seseorang yang terlalu percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan baik, sering mengalami ketakutan, kesedihan, jika godaan dan kesulitan datang padanya.


2. Sadarlah akan ketergantunganmu kepadaKu. Tanpa Aku, dirimu tak berarti apa-apa. Sebuah pemahaman akan kebenaran ini akan nenolongmu menguasai pikiran-pikiran dan keinginan-keinginanmu. Ia akan membuatmu kuat menghadapi godaan, sehingga kamu tidak mudah jatuh kedalam dosa.


3. Bertempurlah seperti seorang ksatria yang gagah. Jika kamu akan jatuh oleh kelemahanmu, berdoalah memohon pertolonganKu dan bangkitlah dengan semangat yang lebih besar dari pada sebelumnya. Hati-hatilah terhadap rasa kepuasan diri dan kesombongan. Kedua kejahatan ini bisa menuntun manusia menuju kesalahan dan terkadang bisa membuatnya buta terhadap kesalahan dan kegagalan mereka. Ambillah pelajaran dari kejatuhan mereka yang terlalu percaya pada kemampuan mereka sendiri. Biarlah hal itu menjadi peringatan yang membuatmu menjadi tetap rendah hati.



RENUNGAN :


Allah memiliki rencana tertentu atas diriku, sebuah rencana yang berkaitan dengan penyelamatan abadiku. Pada waktu-waktu tertentu Dia memberiku sebuah kebahagiaan, damai, dan kesediaan untuk berbuat kebaikan. Pada saat-saat yang lain Dia mengambil karunia ini, dan aku merasa ditolak, bodoh, mungkin hingga sedih dan menjadi penakut. Seorang yang berjiwa ksatria selalu berusaha untuk menjalani kehidupan yang seimbang, tanpa menyerah kepada perasaan dan suasana hatinya. Ketika Allah memberinya terang dan kebahagiaan rohani, dia berusaha menikmati karunia ini dengan penguasaan diri, sambil mengingat bahwa sebentar lagi mungkin dia mengalami cobaan yang akan menghapus semua kesenangan ini. Karena itu, disaat-saat mengalami cobaan, dia mengingatkan dirinya akan kesenangan yang telah dia alami dan akan dia peroleh kembali nanti pada saat yang tepat. Orang demikian terhindar dari sifat yang dimiliki oleh mereka yang bertindak berdasarkan pada perasaan dan suasana hatinya saat itu. Dia bisa bergaul dengan Allah dan dengan manusia, tidak peduli apakah saat itu dia sedang melayang-layang dalam kebahagiaan ataukah sedang tenggelam dalam kegelapan dan kesedihan.



DOA :


Tuhanku dan Penciptaku, yang benar adalah kenyataan bahwa diriku benar-benar tergantung kepadaMu dalam segala hal. Tanpa Engkau, diriku tak berarti apa-apa dan tak bisa apa-apa. Jika aku mengakui ketergantungan ini kepadaMu melalui kehidupanku sehari-hari, aku akan menjadi besar. Buatlah diriku menjadi tulus untuk hidup sesuai dengan kebenaran ini. Aku berniat untuk berjuang lebih keras lagi untuk menyenangkan Engkau dalam kegiatan serta pikiranku sehari-hari. Aku akan menolak untuk bersikap sombong ketika aku menikmati segala pemberianMu, akupun tidak akan merasa takut jika Engkau mengambil segala pemberianMu itu dari padaku. Engkau memiliki alasan-alasan sendiri atas segala tindakanMu terhadapku. Aku berharap untuk tetap menjaga pikiranku agar merenungkan kebijaksanaan dan kasihMu yang tak terbatas itu, apapun yang terjadi hari ini. Apakah diriku sedang mengalami cobaan penderitaan ataukah kedamaian, aku ingin agar kesetiaanku kepada Kehendak SuciMu tetap tak berubah ataupun goyah. Amin.