Tuesday, December 17, 2013

Pandangan Paus atas Gereja



Pandangan Paus atas Gereja
(seperti disampaikan kepada seorang atheis)
Oleh Paul Simmons

Pada bulan keenam dari masa pemerintahan kepausannya, Paus Francis mengguncang dunia Katolik dengan serangkaian wawancara yang penting untuk disimak dengan seorang Eugenio Scalfari – seorang editor atheis dan pendiri sebuah penerbitan anti-Katolik dan historis fanatik, berjudul "La Repubblica". Paus Francis awalnya mengajukan surat kepada Scalfari pada tanggal 11 September 2013, yang ditindak-lanjuti dengan wawancara tatap muka pada tanggal 1 Oktober 2013. (Hasil wawancara lihat pada link berikut : http://www.repubblica.it/cultura/2013/10/01/news/pope_s_conversation_with_scalfari_english-67643118/)
Scalfari yang atheis itu, secara historis dia bersikap kritis terhadap lembaga kepausan dan Gereja Katolik, dan pada akhir wawancara itu dia berkata :”Inilah Paus Francis. Jika Gereja menjadi seperti apa yang dia bayangkan dan inginkan, maka hal itu merupakan perubahan atas sebuah zaman."

Wawancara itu, jika diamati lebih teliti, adalah merupakan ringkasan singkat dari pandangan Paus Francis yang mencakup keseluruhan pandangannya atas Gereja Katolik. Sementara publikasi Katolik yang konservatif menyuarakan keprihatinan mereka dengan berbagai masalah yang diangkat dalam wawancara itu, maka banyak media sekuler yang menyambut hangat pandangan baru Paus Francis bagi Gereja itu.

Pandangan ini, seperti yang akan kita lihat selanjutnya dalam artikel ini, adalah sebuah langkah baru yang mencolok yang berbeda dari garis jalan yang diikuti oleh para paus sebelumnya. Scalfari meringkaskan beberapa ‘inovasi’, sebagaimana dia menyebutnya, dari paus baru yang telah memenangkan banyak hati dari media sekuler: "Misinya berisi dua inovasi yang menghebohkan : Gereja Francis yang malang, Gereja horizontal Martini, dan yang ketiga : Allah yang tidak menghakimi, tetapi mengampuni. Tidak ada hukuman, dan karena itu : tidak ada neraka".

Setelah banyak kontroversi, teks lengkap dari wawancara itu dihapus dari situs resmi Vatikan, setelah awalnya dipublikasikan secara penuh.

Apakah yang dikatakan Paus dalam wawancara itu? Dalam artikel ini kita mengutip beberapa poin yang penting, serta pendapat pribadi dan analisis penulis mengenai hal ini.

Apakah masalah paling urgent yang dihadapi Gereja

Menurut paus, "Kejahatan paling serius yang saat ini melanda dunia adalah pengangguran di kalangan kaum muda dan kesendirian yang dialami oleh kaum jompo. Hal ini, menurut pendapat saya, adalah masalah yang paling mendesak yang dihadapi Gereja".

Menurut kami, meskipun benar bahwa pengangguran kaum muda adalah masalah serius, haruskah hal ini menjadi prioritas nomor satu didalam Gereja? Gereja Katolik bukanlah sebuah LSM. Gereja Katolik bukanlah sektor swasta. Juga Gereja Katolik bukanlah pemerintah. Pengangguran kaum muda adalah masalah sosial yang harus menjadi tanggung jawab utama pemerintah, dengan kerjasama dari LSM dan sektor swasta.

Pada tingkat praktis, meski jika ia diminta, Gereja tidak memiliki sarana dan sumber daya untuk memecahkan masalah ini. Para imam tidak dilengkapi atau dilatih untuk memecahkan masalah ini. Pembentukan imam bukan untuk memecahkan persoalan pengangguran kaum muda pembentukan imam adalah belajar mengenai Iman Katolik dan Spiritualitas Katolik, sehingga imam kemudian dapat menyampaikan hal ini kepada kawanan mereka.

Jika mengatasi pengangguran kaum muda menjadi prioritas nomor satu dari Gereja, apakah ini berarti bahwa para imam harus menghabiskan lebih banyak waktu mencari cara untuk menyediakan lapangan kerja bagi kaum muda? Melakukan hal ini akan berarti imam menghabiskan lebih banyak waktu pada urusan duniawi, urusan sekuler - bekerja sama dengan sektor swasta untuk mempromosikan pekerjaan, mengadakan berbagai macam pameran lapangan kerja, mendorong bisnis lokal dan industri, bahkan mungkin meluncurkan bisnis yang mempromosikan lapangan kerja milik mereka sendiri. Industri swasta dan pemerintah adalah satu-satunya yang dapat memecahkan masalah pengangguran ini, bukan Gereja.

Imam BUKANLAH pekerja LSM. Imam bukanlah pengusaha. Imam bukanlah pegawai pemerintah. Imam adalah, pertama dan terutama, pengasuh dan pemelihara jiwa-jiwa. Tujuan utama dari imam haruslah untuk membantu kemajuan rohani dari kawanan mereka agar bisa naik ke surga. Surga adalah tujuan akhir. Sakramen-sakramen, Ekaristi, Pengakuan, Pembaptisan, dll - adalah sarana spiritual yang diperlukan oleh kawanan yang tak bisa diberikan oleh orang lain kecuali oleh imam.

Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, "Apakah untungnya bagi seseorang untuk memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwanya dalam proses itu?" Jika kita bawa kalimat ini dalam konteks masalah pengangguran kaum muda: "Apa untungnya bagi seluruh kaum muda di dunia untuk mencari mendapatkan yang baik tetapi kehilangan jiwa mereka dalam proses tersebut?" Apa gunanya memberikan pekerjaan kepada kaum muda jika mereka berakhir dengan menyia-nyiakan kehidupan rohani mereka? Menyelamatkan jiwa-jiwa adalah prioritas yang paling penting dari imam - dan Gereja pada umumnya.


Mengenai aborsi, Kehidupan

Jika para paus sebelumnya telah menekankan perjuangan untuk hidup dan perlindungan bagi bayi yang belum lahir, serta pelestarian dogma Katolik di tengah-tengah dunia sekuler, maka paus Francis malah menghapuskan penekankan masalah ini. Dalam sebuah wawancara dengan "La Civilta Cattolica", dia berkata: "Kami tidak bisa memaksa untuk hanya memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan masalah aborsi, pernikahan gay dan penggunaan metode kontrasepsi. Ini tidaklah mungkin ... tidaklah perlu terus menerus membicarakan masalah ini... "

Selain itu, dia juga menekankan: "Ajaran dogmatis dan moral gereja tidak semuanya setara. Pelayanan pastoral gereja tidak boleh terobsesi dengan penyebaran berbagai doktrin yang tidak saling berhubungan untuk kemudian diberlakukan secara terus menerus."

Sebagai hasil dari wawancara ini, surat kabar dan publikasi sekuler di seluruh dunia berteriak pada headline mereka: "Paus mengatakan bahwa Gereja terobsesi dengan masalah Gay, Aborsi dan Keluarga Berencana" (New York Times); "Paus berkata bahwa Gereja harus mengakhiri obsesi pada masalah gay, kontrasepsi, aborsi" (Reuters); "Katolik Amerika memperhatikan tindakan paus yang mengecilkan isu-isu sosial"(CNN).
Beberapa klinik aborsi bahkan bertindak lebih jauh dengan menempatkan kata-kata paus ("Kami tidak bisa memaksa untuk hanya memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan masalah aborsi...” ) di tempat praktek mereka. NARAL, sebuah organisasi besar yang pro-choice dan pro-aborsi di Amerika Serikat, memposting catatan di halaman Facebook mereka sehari setelah wawancara Paus: "Paus Francis yang terkasih, terima kasih. Tanda tangan : Perempuan Pro-Choice di mana-mana."


 Perkawinan sejenis

Paus juga menjadi berita utama di seluruh dunia ketika pada wawancara di dalam sebuah pesawat, setelah Hari Pemuda sedunia di Brasil, dia menyatakan kepada wartawan: "Jika seseorang itu gay dan dia mencari Tuhan dan memiliki niat yang baik, siapakah aku ini hingga berhak untuk menghakiminya?" Hal ini berbeda dengan Paus Benediktus XVI yang, sementara menekankan perlunya untuk menghormati orang-orang dengan kecenderungan homoseksual, dia juga menekankan bahwa "kecenderungan homoseksual yang mendalam ... adalah sebuah penyimpangan yang disengaja."

Komentar yang sederhana, satu baris itu, memicu gelombang berita utama di seluruh dunia. Koran-koran sekuler berteriak: "Paus memberi tanda keterbukaan terhadap imam-imam gay" (Wall Street Journal); "Paus Francis mengatakan bahwa dia tidak akan menghakimi imam-imam yang gay" (Fox News); "Paus memberi tempat pijakan yang baru bagi imam-imam gay dan imam-imam perempuan" (Forbes).

Beberapa politisi yang mendorong pengesahan perkawinan homoseksual juga berpegangan kepada perkataan paus ini. Illinois baru saja menjadi negara ke-16 di Amerika Serikat yang melegalkan homoseksualitas, dan beberapa politisi Katolik, yang sebelumnya tidak yakin akan sikap mereka, mengutip perkataan paus ini sebagai dasar untuk melakukan "perubahan hati" mereka yang menyebabkan mereka menyetujui keputusan itu. Michael Madigan, pembicara dari DPR Illinois, mengutip perkataan paus dalam mendukung keputusan itu. Dalam pidato terakhirnya selama pembahasan RUU, Madigan mengatakan:

... Kutipan yang saya sampaikan ini adalah dari perkataan Paus Francis dari Gereja Katolik Roma, yang mengatakan, "Jika seseorang itu gay dan dia mencari Tuhan dan memiliki niat yang baik, siapakah aku ini hingga berhak untuk menghakiminya?." Paus Francis telah berbicara, dan dia telah membentuk dasar pemikiran saya tentang masalah ini ... Bagi mereka yang telah menjadi gay – dan hidup didalam relasi yang harmonis, produktif namun ilegal - siapakah aku ini hingga berani menilai bahwa mereka hidup secara ilegal?

Perubahan besar dalam hal Penekanan

Sementara nampaknya tidak ada perubahan yang jelas dalam doktrin yang berkaitan dengan perkawinan dan pendirian Gereja tentang masalah aborsi, tetapi ada perubahan yang sangat jelas dalam penekanan. Banyak umat Katolik konservatif, terlibat di tengah-tengah pertempuran sengit dengan pemerintah tentang isu-isu seperti pernikahan gay dan aborsi, tengah mengalami kebingungan.

Banyak umat Katolik telah membela Paus, dengan mengatakan bahwa media sekuler telah mengutip perkataan Paus Francis 'di luar konteks’ dan memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan dari sini guna mempromosikan tujuan mereka sendiri. Mereka menekankan bahwa Paus benar-benar tidak merubah satupun ajaran Gereja didalam perkataan ini. Tetapi, sementara hal itu benar, yang jelas adalah bahwa telah terjadi perubahan yang sangat jelas sekali didalam penekanan yang tidak bisa ditafsirkan dengan cara lain kecuali berikut ini : kita tidak boleh "terlalu terobsesi" dengan isu-isu seperti perjuangan untuk hidup dan pertahanan keluarga. Perjuangan untuk hidup dan pertahanan keluarga BUKANLAH masalah yang paling penting yang dihadapi Gereja saat ini.

Pembantaian jutaan jiwa-jiwa yang tak berdaya, bayi-bayi yang belum lahir, adalah BUKAN MENJADI prioritas kita. Pertahanan unit keluarga tradisional - pandangan bahwa pernikahan adalah hanya antara seorang pria dan seorang wanita BUKANLAH prioritas kita. Memerangi upaya pemerintah untuk melegalkan aborsi dan pernikahan homoseksual di negara kita BUKANLAH prioritas kita. Sebaliknya, prioritas kita harus difokuskan pada pemecahan masalah "pengangguran di kalangan kaum muda" dan "kesepian yang dialami oleh kaum jompo."

Pesan yang halus namun berbahaya bagi umat Katolik, khususnya pendukung pro-kehidupan, adalah ini : Tenanglah, jangan terlalu terobsesi dengan masalahmu. Gerakan pro-kehidupan BUKANLAH prioritas Gereja. Daripada menghabiskan begitu banyak waktu mengajukan petisi kepada pemerintah dan Mahkamah Agung untuk mempertahankan hidup dan keluarga, kita harus menghabiskan lebih banyak waktu guna membantu menciptakan lapangan pekerjaan bagi kaum muda.

Apakah pengangguran kaum muda adalah lebih penting daripada pembantaian jutaan bayi tak bersalah didalam rahim ibu mereka? Apakah pengangguran kaum muda lebih penting daripada pertahanan unit keluarga tradisional yang merupakan landasan dari terbentuknya masyarakat? Bukankah ketika Anda menghancurkan keutuhan keluarga, Anda menghancurkan masyarakat? Lihatlah kepada dunia Barat saat ini - itu adalah masyarakat yang sedang menjadi busuk dan runtuh moralnya. Pada akar dari pembusukan dan keruntuhan ini adalah berupa kehancuran keluarga - melalui perceraian, pernikahan gay, aborsi.

Adakah ‘Allah Katolik’ ?

Paus berkata kepada Scalfari: "... Saya percaya pada Tuhan. Bukan sebagai Tuhan Katolik, Tuhan Katolik itu tidak ada ".

Apakah yang menjadi masalah dengan pernyataan di atas? Ini pada dasarnya memberitahu kita bahwa pandangan Katolik akan Allah bukan satu-satunya pandangan yang benar mengenai Allah. Setiap agama memiliki pandangannya sendiri akan Allah. Bagi umat Islam, Tuhan adalah Allah - Yesus Kristus bukan Allah, Dia hanya seorang nabi. Bagi umat Buddha, Tuhan bukanlah sebuah entitas nyata, Makhluk nyata, tetapi adalah sebagai "nirwana" – sebuah keadaan pikiran. Bagi pemuja setan, "Allah" mereka adalah "Arsitek Agung Alam Semesta" - Lucifer, "cahaya".

Berdasarkan pernyataan paus, maka berbagai pandangan mengenai Allah ini adalah benar semua. Tidak ada tafsir tunggal akan Allah yang benar. Penafsiran Katolik mengenai Tuhan tidak ada. Dengan kata lain, pandangan kita tentang Allah sebagai Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putera dan Roh Kudus - bukan satu-satunya pandangan yang valid mengenai Allah. Pandangan Islam berlaku juga. Pandangan Buddhis adalah baik-baik saja. Bahkan pandangan setan - baik juga.

Tapi bukankah seperti itu yang harus kita pegang teguh soal pandangan Katolik mengenai Allah? Pandangan Katolik mengenai Allah adalah Tritunggal Mahakudus. Yesus bukan hanya seorang nabi, tetapi Anak Allah yang menjadi manusia. Bukankah kita harus menekankan bahwa pandangan Katolik mengenai Allah adalah pandangan yang satu dan benar? Pandangan Katolik mengenai Allah ini bukanlah sesuatu yang dapat dikompromikan. Ia tak dapat dikompromikan. Kita tidak bisa menerima interpretasi Muslim mengenai Allah yang menyangkal keilahian Yesus. Kita tidak bisa menerima pandangan Buddhis bahwa Tuhan bukanlah sebuah entitas nyata tetapi hanya "keadaan pikiran." Kita tidak bisa menyelaraskan pandangan Katolik tentang Allah demi "ekumenisme" dan "kesatuan" dengan saudara-saudara non-Kristen.

Adakah Kebenaran dan Kesalahan yang mutlak?

Scalfari bertanya kepada Paus : "Yang Mulia, apakah hanya ada satu pandangan mengenai Kebaikan? Dan siapa yang menentukan hal itu baik atau tidak? "

Paus menjawab :

Masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri mengenai Baik dan juga mengenai Buruk. Kita harus mendorong hal itu (pandangan itu) untuk bergerak menuju apa yang dirasakan seseorang sebagai Baik ... saya mengulanginya. Setiap orang memiliki ide sendiri mengenai Baik dan Buruk dan dia harus memilih untuk mengikuti yang Baik dan memerangi yang Buruk karena dia telah mengerti hal itu. Hal ini sudah cukup untuk memperbaiki dunia.

Dalam surat aslinya untuk Scalfari, Paus menguraikan tentang masalah di atas:

Pertanyaan bagi orang yang tidak percaya pada Tuhan terletak pada mentaati suara hati nurani seseorang. Dosa, termasuk bagi mereka yang tidak memiliki iman, terjadi ketika seseorang bertindak bertentangan dengan hati nuraninya. Jadi kenyataanya, mendengarkan dan mematuhi itu berarti memutuskan untuk menghadapi apa yang dianggap sebagai baik atau buruk. Dan pada keputusan inilah bergantung kebaikan atau keburukan dari tindakan kita.
Pernyataan Paus diatas atas adalah sebuah bentuk relativisme moral - sebuah bidaah yang berbahaya, yang jika diterima oleh dunia, akan menyebabkan diterimanya perbuatan dosa. "Masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri atas Baik dan Buruk" - dengan kata lain, tidak ada kebenaran mutlak. Tidak ada tatanan moral yang absolut. Tak ada lembaga, tak ada Gereja yang memiliki hak untuk secara pasti mengatakan apa yang benar dan apa yang salah. Sepuluh Perintah Allah tidak relevan lagi -- masing-masing dari kita bisa menulis 10 Perintah Allah ini menurut versi kita sendiri. Setiap orang bebas untuk menilai sendiri apa yang baik dan apa yang buruk.

Bayangkan apa akibatnya jika pernyataan Paus ini diterima oleh dunia. Teroris memiliki ‘pandangannya sendiri atas baik dan buruk.’ Baginya, tindakan memenggal kepala orang yang tidak bersalah demi Allah adalah baik’. Meledakkan dirinya untuk membunuh dan melukai ratusan orang adalah ‘baik’ -- itu adalah tiket ke surga. Tidak ada yang salah dengan tindakan-tindakan brutal mereka -- selama mereka tidak melawan hati nurani dari si teroris itu yang, dalam pandangan pribadinya sendiri, menilai tindakan mereka itu sebagai hal yang benar-benar ‘baik.’

Bagi remaja yang hamil, "pandangannya sendiri atas apa yang baik" adalah bahwa karena dia secara emosional tidak siap untuk memiliki anak, dan dia tidak memiliki sumber daya keuangan yang diperlukan, maka sudah menjadi haknya untuk mengakhiri kehamilan.

Bagi kaum homoseksual yang memutuskan untuk menikah, ‘pandangannya sendiri atas apa yang baik’ adalah bahwa setiap orang yang sedang jatuh cinta, apapun jenis kelamin pasangannya, mereka memiliki hak untuk menikah. Bagi pejabat pemerintah yang menjarah dan mencuri uang rakyat, ‘pandangannya sendiri atas apa yang baik’ adalah bahwa selama mereka dapat membantu orang-orang, entah uang dari mana itu, adalah sah-sah saja untuk memperkayan dirinya meski melalui korupsi. Daftar perbuatan seperti ini bisa terus ditambahkan.

Untuk mengatakan bahwa ‘masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri atas Baik dan Buruk’ adalah sama dengan memberikan segala lisensi untuk melakukan apapun yang dia ingin lakukan dalam hidup ini. Anda dapat melakukan apapun yang Anda inginkan dalam hidup ini - melakukan aborsi, membunuh, melakukan fitnah, mencuri – sepanjang perbuatan anda itu sejalan dengan ‘pandangan anda atas Baik dan Buruk’. Setiap perbuatan dalam hidup ini adalah sah-sah saja, sepanjang kita beralasan ‘memilih untuk mengikuti yang Baik dan memerangi yang Buruk’, seperti yang dipahaminya saat itu.

Relativisme moral adalah Bidaah yang besar 

Peter Kreeft, seorang penulis dan pembela Katolik terkenal, memperingatkan kita terhadap relativisme moral. Silakan lihat disini : (http://www.peterkreeft.com/audio/05_relativism/relativism_transcription.htm), dimana dia mengatakan bahwa itu adalah masalah paling penting dari zaman kita’. Dia mendefinisikan relativisme moral sebagai berikut:

Relativisme moral biasanya mencakup tiga pengakuan : Bahwa moralitas adalah bisa berubah, kedua, ia bersifat subjektif, dan ketiga, bersifat individuil. Moralitas itu bersifat relativ terhadap perubahan waktu. Anda tidak dapat memutar kembali waktu. Kedua, terhadap apa yang kita pikirkan atau rasakan secara subyektif, maka tidak ada yang baik atau buruk, tapi bagaimana kita berpikir itulah yang membuatnya seperti itu. Dan ketiga, bagi individu, penekanan yang berbeda bagi orang yang berbeda. Absolutisme moral mengakui bahwa ada prinsip-prinsip moral yang tidak bisa diubah, objektif, dan universal.
Bandingkan definisi diatas mengenai relativisme moral dengan pernyataan Paus Francis: "Masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri atas Baik dan Buruk. Kita harus mendorong hal itu (pandangan itu) untuk bergerak menuju apa yang dirasakan seseorang sebagai hal yang Baik ... saya mengulanginya. Setiap orang memiliki ide sendiri mengenai Baik dan Buruk dan dia harus memilih untuk mengikuti yang Baik dan melawan yang Buruk seperti yang dipahaminya saat itu. Hal ini sudah cukup untuk memperbaiki dunia".

Jelas sekali bahwa pernyataan Paus (‘Masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri atas Baik dan Buruk’) adalah sejalan dengan definisi Kreef tentang relativisme moral: moralitas itu bisa berubah, ia bersifat subyektif, dan individual.

Kreeft mengatakan bahwa ‘tidak ada masyarakat yang bisa bertahan hidup tanpa menolak relativisme moral’ :

Relativisme moral adalah filsafat yang menolak kemutlakan moral. Pikiran seperti itu bagi saya adalah tersangka utama, musuh nomor satu. Filosofi ini telah memadamkan terang di benak para guru kita, dan kemudian siswa mereka, dan akhirnya, jika tidak dirubah, akan memadamkan seluruh peradaban kita. Oleh karena itu, saya ingin bukan saja menyajikan contoh yang besar yang menentang relativisme moral, tetapi juga untuk membantahnya, untuk membuka kedoknya, untuk membuatnya telanjang, merendahkannya dan untuk mempermalukannya ... Seberapa pentingkah masalah ini? Masalah relativisme moral adalah isu yang paling penting dari zaman kita, karena tidak ada masyarakat dalam sejarah manusia yang bisa bertahan hidup tanpa menolak filosofi yang akan saya bantah ini.

Pandangan Paus Francis pada masalah ‘relativisme moral’ ini adalah bertolak belakang dengan pandangan Paus Benediktus XVI yang mengatakan bahwa relativisme moral adalah sebuah bahaya yang harus diperangi oleh Gereja. Sesaat sebelum para Kardinal mengikuti konklaf 2005 untuk memilih paus yang kemudian memilih Yohanes Paulus II, Kardinal Joseph Ratzinger, dekan College of Cardinals, memperingatkan adanya bahaya relativisme moral. Dia berkata: "Sebuah kediktatoran relativisme sedang dibentuk, yaitu yang tidak mengakui apapun sebagai hal yang pasti dan yang memiliki tolok ukur hanya pada diri sendiri dan keinginannya."

Apakah kita Wajib mengIkuti Pengajaran sesat?

Apakah boleh mengkritik Paus? Bukankah kita, sebagai umat Katolik, wajib mematuhi Paus dalam segala hal? Seseorang mungkin akan menjawab bahwa dalam kasus di mana Paus mengajarkan ajaran sesat, maka kita bisa mengkritik Paus, dan kita tidak wajib untuk mematuhinya dalam kasus di mana ajarannya adalah sesat. Ajaran yang mengatakan bahwa ‘masing-masing dari kita memiliki pandangan sendiri atas Baik dan Buruk’, seperti yang dikatakan oleh Paus Francis, adalah relativisme moral dan hal itu merupakan ajaran sesat yang jelas akan menyebabkan gangguan yang luas dan dosa, jika hal itu dipatuhi.

Canon 188.4 (1917 Kitab Hukum Kanonik) menyatakan bahwa jika seorang klerus (paus, uskup, dll) menjadi sesat, dia kehilangan jabatannya, tidak memiliki hak untuk memberlakukan hukum. St Robert Bellarmine, St Antonius, St Fransiskus de Sales, St Alfonsus Liguori, dan banyak teolog lainnya mengajarkan bahwa seorang bidaah tidak bisa menjadi paus yang valid. St Alplhonsus mengatakan: "Jika Tuhan mengizinkan seorang paus untuk menjadi sesat hingga terkenal dan keras kepala, maka dengan kenyataan itu dia akan berhenti menjadi Paus, dan kursi apostoliknya menjadi kosong."

St Robert Bellarmine, S.J. juga menulis: "Seperti halnya dibolehkan untuk menentang Paus yang menyerang tubuh, maka juga dibolehkan untuk menentang orang yang menyerang jiwa atau yang mengganggu ketertiban masyarakat, atau, lebih dari semuanya, yang mencoba untuk menghancurkan Gereja. Saya mengatakan bahwa adalah boleh untuk melawannya dengan tidak melakukan apa yang dia perintahkan dan mencegah keinginannya untuk dilaksanakan."

Mengapa Paus berkata seperti ini?

Mengapa Paus mengatakan hal-hal seperti ini? Pendapat pribadi penulis adalah bahwa saat ini kita sedang menyaksikan penggenaan dari nubuat yang telah diramalkan, tepat di depan mata kita. Anne Catherine Emmerich Terberkati memperoleh penglihatan atas sebuah gereja palsu di masa depan dalam periode sebelum Kedatangan Kedua dari Tuhan Yesus :"Aku juga melihat hubungan antara dua paus ... saya melihat betapa buruknya akibat-akibat dari gereja palsu ini. Aku melihatnya bertambah besar, segala macam bidaah datang memasuki kota Roma".

Banyak lagi nubuatan dan penampakan lainnya meramalkan munculnya "Nabi Palsu" yang ada di dalam Alkitab, yang akan memimpin gereja menuju kesesatan, sebelum Kedatangan Kedua Yesus. Untuk informasi lebih lanjut tentang penglihatan dan dan nubuatan, silakan membaca artikel ini. (http://www.all-about-the-virgin-mary.com/book-of-truth.html)

Perlunya bersikap Waspada

Apakah semua ini terlalu luar biasa bagi kita? Pernyataan kontroversial Paus Francis hendaknya mendorong kita untuk merenungkannya dengan serius. Setidaknya - adakah Paus menjadi ceroboh, tidak menyadari dampak dari pernyataan-pernyataannya tentang moral umat manusia? Atau apakah dia sedang membuka jalan bagi lebih banyak lagi perubahan yang drastis?

Bagaimanapun juga, kita - terutama kaum klerus dan religius - tak boleh bersikap acuh tak acuh. Ada sebuah kutipan terkenal: "Kejahatan akan tumbuh subur ketika orang baik tidak melakukan apapun." Marilah kita waspada dan terus berjaga. Lebih dari itu, marilah kita berdoa untuk Gereja kita tercinta serta kedua paus.