Saturday, February 28, 2009

Medjugorje



25 Februari 2009:

Anak-anak yang terkasih ! Di saat penyangkalan diri, doa dan tobat ini, aku memintamu lagi : pergilah dan akukanlah dosa-dosamu, agar rahmat bisa membuka hatimu dan mengijinkannya untuk merubahmu. Bertobatlah anak-anak kecil, bukalah dirimu bagi Tuhan dan bagi rancanganNya bagi dirimu masing-masing. Terima kasih karena kamu telah menjawab panggilanku.

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XIX)

XIX


19 Agustus 1894.

Ini mungkin yang terakhir kalinya bagiku untuk menulis agar aku bisa berbicara denganmu, adik kecilku yang terkasih. Tuhan didalam kebaikanNya telah memberikan apa yang kimunta. Kemarilah dan kita akan menderita bersama-sama. . . Kemudian Yesus akan membawa salah satu dari kita, dan yang lainnya akan tetap berada di pengasingan sedikit lebih lama lagi. Sekarang, dengarkanlah baik-baik apa yang akan kukatakan ini: "Allah tidak akan pernah memisahkan kita, dan jika aku mati sebelum kamu, janganlah mengira bahwa aku berada jauh darimu – tidak, kita akan lebih erat lagi bersatu. Kamu tak boleh bersedih akan nubuatan masa kanak-kanakku. Aku tidak sakit, aku memiliki aturan yang ketat, namun Tuhan bisa mematahkan besi seperti tanah liat.

Bapa kita yang terkasih membuat kehadiranNya bisa kita rasakan dengan cara yang amat menyentuh hatiku, Setelah kematian yang berlangsung selama lima tahun, maka betapa senangnya melihat dia dalam keadaan seperti apa yang diinginkananya, bahkan lebih dari peranan seorang ayah yang biasa ! Betapa besarnya dia membalas kamu atas perawatanmu kepadanya ! Kamu adalah seperti malaikatnya, dan kini dia menjadi milikmu. Dia telah satu bulan berada di Surga, dan melalui kuasa pengantaraannya, semua rencanamu berjalan lancar. Kini menjadi mudah baginya untuk merancang sesuatu bagi kita dan dia tidak lagi merasa sedih atas keadaan Céline dari pada ketika ‘ratu kecilnya’ itu masih kecil dulu.

Sudah lama kamu bertanya kepadaku tentang kehidupan novisiat, khususnya tentang tugasku, dan sekarang aku akan memuaskan kamu. Didalam aku berhubungan dengan para novis aku bertindak seperti penata pertandingan. Peranan ini memberiku banyak kegelisahan karena sangat sulit. Kamu harus memutuskan untuk dirimu sendiri jika hal ini tidak terjadi. Sepanjang hari, dari pagi sampai malam, aku terus memperhatikan permainan itu. Ibu kepala biara dan Nyonya Novis bermain sebagai bagian dari para pemain namun para pedmain itu terlalu besar untuk bisa merayap dibalik kain penutup, sedangkan seekor anjing kecil bisa saja bergerak kemana-mana.. . . dan kemudian baunya akan terasa menyengat ! Aku harus tetap memperhatikan kelinci-kelinci kecilku; aku tidak ingin menyakiti mereka, tetapi aku akan berkata kepada mereka dengan perlahan: "Kamu harus menjaga agar bulumu tetap berkilau, dan kamu tidak boleh bertindak bodoh seperti kelinci jorok". Kenyataannya aku mencoba untuk membuat mereka seperti Pemburu Jiwa-jiwa, sebagai makhluk-makhluk yang kecil dan sederhana yang terus mengendus-endus segala hal disekitarnya.

Kini aku tertawa, tetapi sungguh aku yakin bahwa salah satu kelinci-kelinci itu, yaitu kamu tahu mana yang kumaksud, nilainya seratus kali lebih besar daripada penata tanding itu; dia telah berjalan melalui berbagai bahaya, dan aku mengakui bahwa akulah dia, karena aku telah tersesat jauh ditengah hutan dunia ini dalam waktu yang lama. (Bersambung)

Friday, February 27, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XVIII)



XVIII


July 7, 1894

Adik kecilku yang terkasih. Aku tidak tahu apakah kamu masih memiliki pola pikir yang sama seperti saat terakhir kamu menulis kepadaku,aku menganggap bahwa kamu masih tetap seperti itu dan aku menjawab dengan kutipan dari Kidung yang menjelaskan dengan tentang keadaan dari suatu jiwa yang mengalami kekeringan jiwa yang amat besar, yang tidak bisa menemukan kebahagiaan atau penghiburan dalam segala hal: "Ke kebun kenari aku turun melihat kuntum-kuntum di lembah, melihat apakah pohon anggur berkuncup dan pohon-pohon delima berbunga. Tak sadar diri aku, kerinduanku menempatkan aku diatas kereta orang bangsawan’ (Kid.6:11).

Itulah gambaran dari jiwa-jiwa kira. Sering kita turun di lembah yang subur di mana hati kita berusaha menemukan makanannya, dan lahan yang luas dari Kitab Suci, yang sering dibuka untuk memberikan harta kekayaan bagi kita, namun kini sepertinya hal itu gersang dan berisi air limbah. Bahkan kita tidak tahu di mana kita berdiri. Di tempat yang biasanya ada damai dan terang, kini yang terasa hanya kesedihan dan kegelapan. Tetapi seperti pasangan pengantin didalam Kidung, kita tahu penyebab dari semua cobaan ini: "Jiwaku merana karena kereta perang bangsawan". Kita tidak berada di negeri kita yang sesungguhnya, dan laksana emas yang dimurnikan didalam api begitu jugalah jiwa-jiwa kita dimurnikan melalui berbagai cobaan. Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita ditinggalkan.

Tetapi celakanya, ‘kereta-kereta perang’ itu, teriakan-teriakan konyol itu yang menyerang dan mengganggu kami - hal itu terjadi di dalam ataupun diluar jiwa. Kita tak bisa mengatakan, tetapi Yesus tahu; Dia melihat semua kesedihan kita, dan pada malam hari, secara tiba-tiba, suaraNya akan terdengar: "Kembalilah, kembalilah, ya gadis Sulam: kembalilah, kembalilah, supaya kami dapat melihat engkau." (Kid.6:12).

Oh panggilan yang penuh dengan rahmat ! Kita tidak lagi memperhatikan diri kita sendiri, karena penglihatan ini akan memenuhi kita dengan rasa takut, sedangkan Yesus memanggil kita agar kita dipenuhi dengan kebahagiaan. Dia berkenan memperhatikan kita, Dia datang, dan bersama dengan Dia datang pula Dua Pribadi lainnya dari Tritunggal yang amat terpuji, untuk memiliki jiwa kita.

Tuhan kita telah menjanjikan hal ini, ketika dengan kelembutan yang amat besar Dia berkata sejak dulu: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh.14:23). Maka melaksanakan sabda Yesus ini, adalah merupakan salah satu kebahagiaan kita, yang merupakan bukti kasih kita kepadaNya, dan sabda ini bagiku seolah merupakan Dia sendiri, sebab Dia menyebut DiriNya sebagai ‘Sabda Yang Tak Diciptalkan dari Bapa’.

Didalam Injil yang sama dari Yohanes, Dia membuat doa yang amat baik : “"Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firmanMu adalah kebenaran” (Yoh.17:17). Dan di dalam kutipan yang lain Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Dia adalah "Jalan dan Kebenaran dan Hidup”. (Yoh.14:6). Maka kita tahu makna dari sabda yang harus kita laksanakan ini dan kita tak boleh berkata seperti Pilatus: "Apakah kebenaran itu?" (Yoh.18:38). Kita memiliki Kebenaran itu, sebab Kekasih kita berdiam di dalam hati kita.

Sering Kekasih kita ini bagi kita laksana narwastu. Kita ikut serta merasakan piala penderitaanNya, tetapi betapa manisnya piala itu bagi kita suatu saat nanti ketika kita mendengar kalimat: “bagaimana manis akan kepada kami satu hari ini untuk mendengar kata-kata lemah lembut: "Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu sama seperti BapaKu menentukannya bagiKu” (Luk.22:28,29) (Bersambung)

Thursday, February 26, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XVII)



XVII



20 Oktober 1893


Adikku yang terkasih. Didalam Kidung, aku menemukan kutipan ini yang kurasa cocok bagimu: “Apa yang kau saksikan pada diri kekasihmu hanyalah berupa para pemain musik didalam barisan bersenjata” (Kid.7:1). Melalui penderitaan, sesungguhnya hidupmu menjadi sebuah medan perang dan disana haruslah terdapat sekelompok pemain musik agar kamu bisa menjadi harpa kecil bagi Yesus. Tetapi tak ada konser yang lengkap tanpa nyanyian, dan jika Yesus yang memainkan alat musiknya, bukankah Cèline yang harus menyanyikan lagunya ? Jika musik itu terlalu sederhana, dia akan menyanyikan ‘lagu pengasingan’. Jika musik itu riang gembira dia akan menghiasi suasana di Rumah Surgawinya ....


Apapun yang terjadi, semua peristiwa duniawi ini, apakah hal itu membahagiakan ataupun menyedihkan, hanyalah seperti suara-suara yang terdengar di kejauhan, tak bisa menciptakan sebuah getaran dari harpa Yesus. Hanya Dia saja yang berhak menyentuh tali harpa itu dengan lembut.


Aku tak bisa berpikir tanpa merasakan kebahagiaan dari orang kudus yang manis itu, Cecilia. Dia memberi contoh yang amat baik bagi kita ! Di tengah-tengah dunia yang kafir, di tengah-tengah bahaya, pada saat ketika ia harus bersatu dengan seorang laki-laki yang sangat mencintanya di dunia ini, maka terasa bagiku seolah dia harus menangis dan gemetar oleh rasa takut. Namun, "selama alunan musik dari pesta perkawinan itu masih bertalu maka Cecilia masih bernyanyi dalam hatinya" (the Office dari St.Cecilia) Betapa hal ini merupakan bentuk tindakan merendahkan diri yang sempurna ! Tidak diragukan lagi bahwa dia juga mendengar melodi-melodi indah dari luar dunia ini, Mempelai Ilahinya yang sedang bernyanyi, dan para malaikat terus mengulang-ulang refren dari nyanyian di malam yang kudus di Bethlehem itu: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai di bumi bagi orang-orang yang berkehendak baik".(Luk.2:14)

Kemuliaan bagi Allah ! St Cecilia memahami hal itu dengan baik, dan dia merindukan hal itu dengan segenap hatinya. Dia mengerti bahwa Yesus sangat haus akan jiwa-jiwa.... dan itulah sebabnya maka seluruh keinginannya adalah untuk membawa kepadaNya dengan segera jiwa seorang anak muda Roma, yang hanya memikirkan kemuliaan duniawi saja. Perawan bijaksana ini akan menciptakan seorang martir dari pria itu, dan banyak orang akan mengikuti jejaknya. Perawan ini tidak kenal takut, karena para malaikat telah menjanjikan damai kepadanya melalui nyanyian mereka. Dia tahu bahwa Pangeran Perdamaian akan melindungi, akan terus menjaga keperawanannya, dan akan membalasnya dengan ganjaran. . . . "Oh, betapa cantiknya angkatan yang murni hatinya !" (Keb.4:1).


Adikku yang terkasih, aku hampir tidak mengerti apa yang kutulis, aku membiarkan penaku mengikuti keinginan dari hatiku. Kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu merasakan kelemahanmu, namun sesungguhnya itu adalah sebuah anugerah. Adalah Tuhan yang menabur benih keraguan akan dirimu sendiri dalam hatimu. Janganlah takut ! Jika kamu tidak gagal dalam memberiNya kesenangan dalam perkara yang kecil, maka Dia akan merasa berkewajiban untuk membantumu dalam perkara yang besar.


Para rasul dahulu telah bekerja keras dalam waktu yang lama tanpa Dia, mereka telah bekerja sepanjang malam tanpa bisa menangkap seekor ikanpun. Kerja keras mereka itu bukannya tidak diterima oleh Yesus, tetapi Dia ingin menunjukkan bahwa Dia adalah Pemberi segala sesuatu. Jadi sebuah tndakan merendahkan diri telah dituntut dari para rasul, Tuhan kita yang penuh kasih akan berkata kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu memiliki sesuatu untuk dimakan ?" (Yoh.21:5). Santo Petrus, mengakui kelemahannya, dan dia berseru: "Tuhan, kami semua telah bekerja sepanjang malam, dan kami tidak memperoleh apa-apa" (Luk.5:5. Soeur Thérèse telah ikut serta merasakan sekali dari dua kali keajaiban mendapatkan ikan ini). Hal itu sudah cukup, Hati Yesus telah merasa tersentuh. . . . Seandainya murid Yesus itu telah mendapatkan ikan, meskipun sedikit, mungkin Guru Ilahi kita kita tak akan melakukan keajaiban itu. Tetapi dia tidak memperoleh apa-apa, maka melalui kuasa dan kebaikan Allah, jala itu segera diisi dengan ikan yang besar-besar. Itulah cara dari Tuhan kita. Dia memberi, sebagai Tuhan, dengan kemurahan ilahiNya, namun Dia tetap menekankan perlunya kerendahan hati. (Bersambung)

Wednesday, February 25, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XVI)



XVI


Cèlineku yang terkasih. Kamu mengatakan bahwa surat-suratku membawa manfaat bagimu. Tentu saja aku berbahagia. Tetapi aku meyakinkan kamu bahwa aku tidaklah salah didalam memahami kutipan ini: “Jika bukan Tuhan yang membangun rumah, maka sia-sialah orang yang berusaha menegakkannya” (Mzm.26:1). Kepandaian berbicara yang terbesar sekalipun tak bisa menghasilkan sebuah tindakan kasih tanpa adanya rahmat yang menyentuh hati.

Renungkanlah akan buah peach yang indah dengan aroma mawar yang lembut, dengan rasanya yang amat manis sehingga tak ada kepandaian manusia yang bisa membuat rasa manis seperti itu. Katakanlah kepadaku Cèline, apakah buah itu ada demi kepentingan buah peach itu sendiri, sehingga Tuhan menciptakan warna warni yang begitu indah dipandang, laksana beludru yang amat lembut jika disentuh ? Apakah hanya baginya sendiri hingga Tuhan menciptakannya dalam keadaan yang amat manis ? Tidak, semua itu adalah bagi kita. Satu-satunya yang menjadi milik dirinya sendiri dan berperanan utama bagi keberadaannya adalah batu. Ia tak memiliki apa-apa lagi diluar dirinya.

Maka sangatlah menyenangkan bagi Yesus untuk melimpahkan karunia-karuniaNya kepada jiwa-jiwa tertentu yang bertujuan untuk menarik jiwa-jiwa lainnya kepadaNya. Didalam kemurahanNya Dia merendahkan semua itu dan dengan perlahan Tuhan mendorongnya untuk menyadari kelemahannya serta KuasaNya yang maha besar. Kini sifat kerendahan hati ini adalah seperti butiran rahmat yang dikembangkan Tuhan bagi hari terberkati itu, ketika dengan berpakaian keindahan yang tak pernah luntur, maka mereka akan ditempatkan, tanpa ada bahaya untuk terjatuh, di meja perjamuan Surgawi. Adikku yang terkasih, gema yang manis dari jiwaku, Thérèse masih berada jauh dari puncak semangatnya saat ini, namun ketika aku berada dalam keadaan keheningan spirituil ini, aku tak mampu berdoa ataupun melaksanakan keutamaan, aku mencari berbagai kesempatan yang kecil-kecil, untuk melakukan hal-hal yang paling sederhana dan tidak berarti, untuk bisa menyenangkan Yesusku: sebuah senyuman atau kata-kata yang ramah, misalnya, ketika aku ingin melakukan hening, atau menunjukkan bahwa aku merasa bosan. Jika tak ada ksempatan seperti itu, aku akan berusaha mengatakannya berkali-kali didalam hatiku. Meskipun nampaknya api kasih seolah sudah padam, aku masih ingin melemparkan beberapa helai jeramiku kedalam sekam, dan aku percaya bahwa ia akan menyala kembali.

Memang benar bahwa aku tidak selalu setia, namun aku tak pernah merasa takut. Aku menyerahkan diriku di tangan Tuhan. Dia mengajari aku untuk mengambil manfaat dari segala sesuatu, dari yang baik maupun yang jelek, yang Dia temukan ada dalam diriku. (St.Yohanes dari Salib). Dia mengajari aku untuk menanam modal di ‘Bank Kasih’ atau Dia yang bermain modal itu bagiku, tanpa mengatakan kepadaku bagaimana Dia melakukannya, yaitu segala perkaraNya sendiri, bukan perkaraku. Aku hanya perlu menyerahkan diriku sepenuhnya kepadaNya, untuk bertindak tanpa ragu, tanpa keinginan untuk mengetahui apa manfaatnya bagiku.... Lebih dari itu, aku bukanlah anak yang hilang, dan Yesus tak perlu merasa khawatir tentang pesta bagiku, karena aku selalu ada bersamaNya” (Luk.15:3).

Didalam Injil aku telah membaca bahwa si gembala akan meninggalkan kawananNya yang setia di padang gurun untuk mencari dombaNya yang tersesat. Kepercayaan ini amat menyentuh hatiku. Kamu tahu, bahwa Dia terus mengawasi kawananNya. Bagaimana bisa mereka itu tersesat ? Mereka adalah menjadi tawanan Kasih. Dengan cara yang sama Gembala Terkasih dari jiwa kita itu meluputkan kita dari kehadiranNya yang amat manis guna memberikan penghiburan kepada para pendosa. Atau seolah Dia menuntun kita menuju Gunung Tabor hanya untuk sesaat saja.... sebab tanah yang subur selalu berada didalam lembah, sebab disanalah Dia beristirahat di siang hari (Kid.1:6). (Bersambung)

Tuesday, February 24, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XV)



XV


2 Agustus 1893

Cèlineku yang terkasih. Tulisanmu telah membahagiakan aku. Kamu sedang meretas jalanmu di jalan kerajaan. Mempelai yang ada didalam Kidung tak bisa menemukan Kekasihnya pada saat istirahat, dan dia pergi keluar untuk mencariNya di kota. Tetapi sia-sia.... sebab hanya jika tanpa ada dinding-dinding itu maka dia bisa menemukanNya. Bukan didalam rasa nyamannya saat istirahat maka Yesus membuat kita menemukan KehadiranNya yang indah. Dia menyembunyikan DiriNya dan menutupi DiriNya di kegelapan. Benar, ini bukanlah jalanNya bersama orang banyak, karena kita bisa membaca bahwa semua orang akan tersapu bersih pada saat Dia berkata kepada mereka.


Terhadap jiwa-jiwa yang lemah Dia semangati dengan tutur kataNya yang Ilahi dengan tujuan untuk menguatkan mereka disaat godaan dan cobaan, namun para sahabatNya yang setia hanya ada sedikit saja pada hari itu, ketika ‘Dia hanya berdiam diri’ (Mat.26:23), dihadapan hakim yang mengadiliNya. Namun terdengar manis sekali di hatiku suara melodi dari keheningan Guru Ilahi itu !


Dia akan membuat kita mau bersedekah kepadaNya, seperti kepada orang miskin, dimana Dia menaruh DiriNya dibawah kemurahan hati kita. Dia tak akan mau menerima sesuatu yang tidak dengan sengaja diberikan kepadaNya secara sukarela dan berbagai hal kecil yang amat berharga di MataNya yang Ilahi. Dia mengulurkan tanganNya untuk menerima cinta yang kecil agar pada hari Penghakiman besar itu Dia bisa berbicara kepada kita dengan kalimat yang amat manis itu: “Datanglah kamu yang diberkati oleh BapaKu, karena ketika Aku haus kamu memberi Aku minum, ketika Aku menjadi orang asing kamu mempersilakan Aku masuk, ketika Aku sakit kamu mengunjungi Aku, ketika Aku berada dalam penjara kamu datang kepadaKu” (Mat.25:34-36).


Cèline yang terkasih. Marilah kita berbahagia ditengah keadaan kita saat ini. Marilah kita memberi dan memberi dan memberi dengan berlimpah tanpa melupakan bahwa Kekasih kita adalah merupakan harta Gereja yang tersembunyi, dimana hanya sedikit sekali jiwa yang mengetahui bagaimana menemukannya. Untuk menemukan apa yang tersembunyi, maka kita harus menyembunyikan diri kita di tempat persembunyian. Biarlah hidup kita menjadi sesuatu yang tersembunyi. Pengarang kitab Imitation berkata:


Jika kamu ingin tahu dan ingin belajar sesuatu yang baik, berusahalah untuk tidak diketahui orang lain dan tidak dihargai sama sekali (Imit.Bk.I,ch.ii.3). Setelah menolak segala sesuatu, maka seseorang haruslah menolak dirinya sendiri (Imit.Bk.II,ch.xi.4). Biarlah orang ini berbahagia disitu dan orang lain disana, tetapi kamu, berbahagialah kamu bukan disini atau disana, tetapi didalam penyangkalan diri. (Imit.Bk.III,ch.xlix.7). (Bersambung)

Monday, February 23, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XIV)



XIV




25 April 1893

Cèline kecilku. Aku musti datang dan membuka keinginan-keinginan dari Yesus terhadap jiwamu. Ingatlah bahwa Dia tidak berkata: “Aku adalah kembang-kembang di taman, sebagai Mawar yang dirawat dengan baik”, tetapi Dia berkata: “Aku adalah seperti kembang bakung diantara duri-duri (Kid.2:1). Ya, hendaknya kamu menjadi setetes embun yang tersembunyi didalam hati dari Kembang Bakung yang indah dari lembah ini.


Tetesan embun.... adakah yang lebih sederhana lagi ?, adakah yang lebih murni lagi ? Ia bukanlah keturunan dari awan-awan. Ia lahir dibawah langit berbintang dan ia hanya hidup semalam saja. Ketika matahari memancarkan sinarnya yang kemilau, maka mutiara-mutiara kecil yang menghiasi setiap tangkai rerumputan itu segera saja berubah menjadi uap air yang ringan.... Itulah gambaran dari Cèline kecilku ! Dia laksana setetes embun, sebuah anak keturunan dari Surga, Rumahnya yang sejati. Melalui malam hari dari kehidupan ini dia harus menyembunyikan didalam kelopak bunga keemasan dari kembang-kembang di taman hingga tak ada mata yang bisa menemukan tempat tinggalnya.


Berbahagialah tetesan embun yang hanya bisa dilihat oleh Tuhan sendiri, tanpa memikirkan gejolak dunia ini. Janganlah merasa iri terhadap aliran bening yang dibawa angin diantara pepohonan di ladang. Riak gelombangnya amat manis, namun ia bisa didengar oleh makhluk. Disamping itu kembang di taman tak bisa menampungnya didalam kelopaknya. Seseorang haruslah menjadi kecil untuk bisa mendekati Yesus. Dan hanya sedikit sekali jiwa-jiwa yang mau menjadi kecil dan tidak dikenal. Mereka berkata: “Bukankah sungai dan selokan adalah lebih bermanfaat dari pada setetes embun ? Apakah manfaatnya ? Tugasnya satu-satunya adalah untuk menyegarkan sesaat beberapa kembang kecil di padang.


Oh, mereka tidak tahu banyak tentang kembang di padang yang sejati. Seandainya mereka mengenal Dia, mereka akan lebih mengerti arti dari teguran Tuhan kepada Martha.


Kekasih kita tidak memerlukan perbuatan-perbuatan yang hebat dari kita ataupun pikiran-pikiran kita yang luar biasa. Dia hanya mencari ide-ide yang sederhana. Bukankah Dia telah memiliki para malaikat, yang pengetahuannya jauh tak terhingga melebihi orang-orang cerdik pandai di dunia ini. Tak ada kecerdasan ataupun talenta lainnya lagi yang dicariNya hingga Dia datang diantara kita.... Dia telah menjadi kembang di padang untuk menunjukkan betapa besar Dia mengasihi kesederhanaan.


Kembang bakung dari lembah hanya meminta setetes embun, yang pada sebuah malam akan turun dari kelopaknya, tersembunyi dari semua mata manusia. Namun jika bayang-bayang itu mulai menghilang, ketika Kembang di taman menjadi Matahari Keadilan (Mal.4:2) maka tetesan embun itu, yaitu dia yang ikut serta merasakan pengasinganNya, akan naik menuju kepadaNya sebagai ‘uap kasih’. Dia akan melimpahkan terang cahayaNya kepadanya hingga dihadapan seluruh isi Surga dia akan bercahaya selamanya seperti mutiara yang amat berharga, yang menjadi cerminan dari Matahari Ilahi. (Bersambung)

Sunday, February 22, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XIII)



XIII


Adikku yang terkasih. Perhatian kita terhadap satu sama lain dari masa kanak-kanak kita telah berubah menjadi persekutuan yang erat didalam pikiran dan hati kita. Yesus telah menarik kita menuju kepadaNya, bukankah kamu telah menjadi milikNya ? Dia telah menaruh dunia ini dibawah kaki kita. Seperti Zacheus, kita telah memanjat pohon agar kita bisa melihat Dia. Pohon misterius ini telah meninggikan kita diatas segala hal, dari mana kita bisa berkata: “Semuanya adalah milikku, semuanya adalah bagiku. Bumi dan langit adalah milikku, Tuhan sendiri adalah milikku dan Bunda Allah adalah bagiku” (St.Yohanes dari Salib). Berbicara tentang Bunda Terberkati, aku harus mengatakan kepadamu tentang salah satu dari caraku yang sederhana. Kadang-kadang aku mendapati diriku berkata kepadanya: “Ibu yang terkasih, menurutku, aku merasa lebih berbahagia dari pada engkau. Aku memiliki engkau sebagai Ibuku dan engkau tak memiliki Perawan Terberkati yang mau mengasihimu.... Memang benar bahwa engkau adalah Ibu Yesus, namun engkau telah menyerahkan Dia bagiku. Dan Dia dari atas salib telah menyerahkan engkau untuk menjadi Ibu kami. Maka dengan begitu kami adalah lebih kaya dari pada engkau ! Dahulu, dengan kerendahan hatimu, engkau ingin menjadi hamba dari Bunda Allah, dan kini aku, makhluk kecil yang hina ini, ternyata bukan menjadi hambamu, tetapi kami menjadi anakmu. Engkau adalah Ibu Yesus dan engkau juga adalah Ibuku”.


Kemuliaan kita didalam Yesus amatlah menakjubkan, Cèline-ku. Yesus telah membuka bagi kita banyak misteri, dengan membuat kita memanjat ‘pohon misteri’ seperti yang kukatakan diatas. Melalui hal ini pengetahuan apakah yang akan Dia ajarkan ? Bukankah kita belajar segalanya dari Dia ?


“Turunlah segera, karena pada hari ini Aku akan tinggal di rumahmu” (Luk.19:5), begitulah Yesus meminta kita turun. Kemana kita harus pergi ? Orang-orang Yahudi bertanya kepadaNya: “Guru, dimanakah Engkau tinggal ?” (Yoh.1:38). Dia menjawab: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk.9:58). Jika kita mau menjadi tempat tinggal bagi Yesus, maka kita harus turun dari ‘pohon’ itu, dan kita harus menjadi miskin sehingga kita tak memiliki tempat untuk meletakkan kepala kita.


Terang rahmat seperti ini telah diberikan kepadaku selama sebuah retret. Tuhan menghendaki agar kita menerima Dia didalam hati kita dan hati kita harus kosong dari segala makhluk. Tetapi sayangnya, hatiku masih belum kosong dari rasa ego. Itulah sebabnya Dia memintaku untuk turun. Dan aku akan turun hingga ke tanah agar Yesus bisa menemukan didalam hatiku sebuah tempat istirahat bagi KepalaNya yang Ilahi dan agar Dia merasakan bahwa disitu, paling tidak, Dia dikasihi dan dimengerti. (Bersambung)

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XII)


XII


15 Agustus 1892

Adik kecilku yang terkasih. Untuk menulis kepadamu hari ini, aku harus mencuri waktu sedikit dari Tuhan. Dia pasti akan mau mengampuni karena dari Dialah kita bisa saling berbicara tentang Dia. Rasa kesepian yang besar serta berbagai pandangan yang mempesona yang terpapar dihadapanmu hendaknya bisa mengangkat jiwamu. Tetapi aku tidak melihat semua itu dan aku sudah merasa puas jika bisa berkata bersama St.Yohanes dari Salib didalam Kidung Spirituilnya: ‘Didalam Kristus aku memiliki gunung-gunung, lembah-lembah yang hening dan dan berhutan lebat’.

Baru-baru ini aku telah merenungkan apa yang bisa kulakukan demi keselamatan jiwa-jiwa dan kutipan singkat dari Kitab Injil ini telah memberiku terang. Dengan menunjuk kepada ladang jagung yang masak, Yesus berkata kepada para muridNya: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh.4:35), dan juga “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit, karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat.9:37).

Ini adalah sebuah misteri ! Bukankah Yesus itu maha kuasa ? Bukankah semua makhluk adalah milikNya ? yang mencukupi kebutuhan mereka ? Mengapa Doa bersabda: ‘Berdoalah kamu kepada Tuan pemilik panenan agar Dia berkenan mengirim para pekerja ? Hal ini karena kasihNya kepada kita begitu besarnya, begitu tak terhingga, hingga Dia ingin agar kita merasakan segala hal yang dilakukanNya. Pencipta semesta alam ini menantikan doa dari jiwa kecil yang sederhana untuk menyelamatkan banyak sekali jiwa-jiwa lainnya, dan sebagai ongkosnya, seperti yang telah Dia lakukan, dengan ongkos DarahNya sendiri.

Hidup bakti kita bukanlah seperti berjalan menuju ladang dan memanen di ladang dari Bapa kita. Yesus tidak berkata kepada kita: “Lihatlah dan tuailah panenan”. Tugas kita adalah lebih mulia lagi: “Angkatlah pandanganmu dan perhatikanlah”, kata Guru Ilahi kita, “lihatlah bahwa di Surga ada banyak sekali tahta yang kosong. Itu adalah tugasmu untuk mengisinya.... Kamu adalah seperti Musa yang berdoa diatas gunung, maka mintalah kepadaKu agar mengirimkan para pekerja dan mereka akan segera dikirim. Aku hanya menanti sebuah doa, sebuah helaan napas panjang ! Bukankah doa yang bersifat apostolik adalah lebih tinggi dari pada sekedar kata-kata ? Maka tugas kita dengan melalui doa itu, adalah untuk melatih para pekerja yang akan menyebarkan kabar gembira dari Injil dan yang akan menyelamatkan banyak sekali jiwa-jiwa, bagi siapa kita akan menjadi ibu rohani mereka. Lalu apa yang kita iri dari para imam-imam itu ? (Bersambung)

Saturday, February 21, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (XI)


XI


26 April 1891


Adik kecilku yang terkasih. Tiga tahun yang lalu hati kita masih belum terkoyak dan hidup ini hanya berupa senyuman kebahagiaan. Kemudian Yesus memperhatikan kita dari atas sana, dan segalanya menjadi samudera air mata.... tetapi hal itu sekaligus menjadi laksana samudera rahmat dan kasih. Tuhan telah mengambil dari kita dia yang kita kasihi. Bukankah kita bisa berkata dengan sesungguhnya: “Bapa Kami yang ada di Surga” ?.


Betapa menghiburnya kalimat yang ilahi itu dan betapa luasnya horison-horison yang terbetang dihadapan kita.


Cèline-ku yang terkasih. Kamu yang sering mengajukan berbagai pertanyaan kepadaku ketika kita masih kecil, tetapi aku heran mengapa kamu tidak bertanya: “Mengapa Tuhan tidak menjadikan aku sebagai malaikat ?”. Baiklah aku akan berkata kepadamu: “Tuhan ingin memiliki KeluargaNya di dunia ini seperti yang dimilikiNya di Surga. Dia menginginkan hal itu dari para para martir serta para rasulNya. Dan jika Dia tidak menjadikan kamu sebagai malaikat di Surga, hal itu karena Dia ingin kamu menjadi malaikat di dunia (yaitu para martir dan para rasul itu), sehingga kamu bisa menderita demi kasih kepadaNya”.


Adikku yang terkasih. Bayangan kegelapan itu akan segera hilang. Cahaya Matahari kekal akan menghalau kebekuan musim dingin.... Sedikit lebih lama lagi kita akan sampai di negeri kita yang sebenarnya dan kebahagiaan dari masa kanak-kanak kita, saat-saat ‘Minggu malam’ kita, disertai dengan berbagai curahan isi hati dan perasaan itu’, dimana semua itu akan diserahkan kembali kepada kita untuk kita miliki selamanya. (Bersambung)

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (X)



X




14 Oktober 1890


Adikku yang terkasih. Aku tahu dengan baik semua penderitaanmu. Aku tahu kesedihanmu dan aku ikut merasakannya. Oh seandainya aku bisa membagikan rasa damai yang diberikan Yesus kepada jiwaku ditengah air mata yang amat pedih ini. Terhiburlah kamu, karena semua itu akan segera berlalu. Hidup kita kemarin telah habis, kematianpun akan segera datang dan pergi. Dan kemudian kita akan menikmati kebahagiaan dalam kehidupan, kehidupan yang sejati, selama berabad-abad yang akan datang yang tak terhitung banyaknya, bahkan lebih lama lagi. Sementara itu marilah kita menjadikan hati kita sebagai taman kebahagiaan dimana Juru Selamat kita yang manis bisa datang dan beristirahat disitu. Marilah kita hanya menanaminya dengan kembang bakung saja dan bernyanyi bersama St.Yohanes dari Salib:


Disana aku dalam keadaan terlena

Kepalaku bersandar kepada Dia yang kukasihi

Diriku hanyut dan segalanya lenyap

Aku membuang semua perhatianku yang lain

Dan membiarkannya berlari tanpa tujuan

Ditengah-tengah kembang bakung.


(dari St.Yohanes dari Salib, ‘The Night of the Soul’). (Bersambung)

Thursday, February 19, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (IX)



IX


23 September 1890

Oh Cèline, bagaimana aku akan menceritakan kepadamu semua apa yang terjadi dalam diriku ? Aku telah menerima luka yang besar ! Namun aku merasa bahwa hal itu dilakukan oleh tangan Tuhan yang penuh kasih, oleh Tangan yang cemburu secara ilahiah.

Semuanya telah siap bagi pertunanganku (Soeur Thérèse menerima kerudung biara pada 24 September 1890), tetapi tidakkah kamu berpikir bahwa masih ada sesuatu yang perlu bagi hari pesta pertunangan itu ? Memang benar bahwa Yesus telah memperkaya aku dengan berbagai batu permata, tetapi tidaklah diragukan lagi bahwa ada sebuah kecantikan yang tak terkira yang belum ada padaku selama ini: Intan yang tak ternilai harganya ini Dia berikan kepadaku hari ini .... Papa tidak ada disini besok ! Cèline, aku mengakui bahwa aku telah menangis sedih sekali.... aku terus menangis hingga aku hampir-hampir tak mampu memegang penaku.

Kamu tahu betapa besar aku ingin melihat papa yang terkasih sekali lagi. Namun kini aku merasa bahwa karena Kehendak Tuhanlah maka dia tidak hadir pada hari pesta pertunanganku itu. Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk menguji kasih kita. Yesus ingin aku menjadi yatim piatu.... sendirian, hanya bersama Dia saja, agar Dia bisa menyatukan DiriNya lebih erat lagi denganku. Dia ingin memberiku kebahagiaan ini di Surga, kebahagiaan yang sangat kurindukan, tetapi yang Dia sembunyikan dariku di dunia ini.

Cobaan hari ini adalah merupakan contoh kesedihan yang sulit untuk dimengerti: sebuah kebahagiaan dihadirkan dihadapanku, kebahagiaan yang amat alami sifatnya, dan mudah sekali diperoleh. Kita sudah mengulurkan tangan untuk menerimanya ... tetapi kemudian tiba-tiba kebahagiaan itu ditarik mundur. Tetapi itu bukanlah tangan manusia yang melakukannya, itu adalah karya Tuhan. Cèline, mengertilah akan Thérèse-mu ini, dan marilah kita dengan gembira menerima duri itu yang ditawarkan kepada kita. Pesta hari esok akan menjadi air mata, namun aku merasa bahwa Yesus akan sangat terhibur.... (Bersambung)

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (VIII)



VIII



18 Juli 1890

Adik kecilku yang terkasih. Aku mengirimkan kepadamu kutipan dari Yesaya yang akan bisa menghibur hatimu. Dahulu jiwa dari nabi itu dipenuhi oleh ingatan akan keindahan tersembunyi yang ada didalam Wajah Ilahi, seperti yang dialami oleh jiwa kita saat ini. Berabad-abad telah berlalu sejak saat itu. Aku jadi bertanya-tanya: apa artinya Waktu ? Waktu hanyalah sebuah khayalan, sebuah mimpi. Tuhan telah melihat kita dalam kemuliaan dan berbahagia didalam kebahagiaan kita yang kekal. Betapa banyaknya manfaat yang dapat kuambil dari perenungan ini. Kini aku mengerti mengapa Dia mengijinkan kita untuk menderita.


Karena Kekasih kita telah ‘mengirik pengirikan sendiri, alat pemeras anggur dari mana Dia memberi kita minum, maka janganlah kita menolak untuk dikenakan dengan pakaian yang bersimbah darah, atau meluputkan bagi Yesus air yang baru yang bisa memuaskan dahagaNya. Ketika ‘Dia memandang kesekitarNya”, maka Dia kini tak akan bisa berkata bahwa Dia ‘sendirian’, karena kita ada disitu untuk menolongNya.


“PandanganNya seolah tersembunyi. Namun sayangnya, terutama hingga saat ini, tak seorangpun yang memahami makna dari air mataNya. “Bukalah bagiKu, adikKu, mempelaiKu”, kata Dia kepada kita, “karena KepalaKu penuh dengan embun (Kid.5:2). Begitulah Yesus mengeluh kepada jiwa kita ketika Dia ditinggalkan dan dilupakan. Dilupakan, inilah kukira yang paling menyakitkanNya.


Dan papa kita yang terkasih, cukup menyedihkan, tetapi bagaimana kita bisa mengeluh karena Tuhan sendiri menganggapnya sebagai ‘penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah’ (Yes.53:4). Didalam kesedihan ini kita hendaknya bisa melupakan diri kita sendiri dan berdoa bagi imam-imam. Hidup kita sepenuhnya harus dibaktikan bagi mereka. Guru Ilahi telah membuatku mengerti, bahwa inilah yang dimintaNya darimu dan dariku. (Bersambung)

Tuesday, February 17, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (VII)

VII


22 Oktober 1889

Cèline-ku yang terkasih. Aku mengirimkan kepadamu sebuah gambar Wajah Kudus. Perenungan atas Wajah Ilahi itu bagiku, menjadi hal yang istimewa bagi adikku, adik dari jiwaku yang sesungguhnya. Semoga dia bisa menjadi Veronica yang baru dan menghapus bersih semua Darah dan Air Mata Yesus, satu-satunya Kekasihnya. Semoga dia bisa memberikan jiwa-jiwa kepada Yesus. Semoga dia bisa menembus jalan melewati ‘para serdadu’, yaitu dunia ini, untuk mendekat disamping Yesus .... Berbahagialah dia ketika dia melihat di Surga adanya makna dari tugas yang misterius dengan apa dia memuaskan dahaganya atas Mempelai Surgawinya. Ketika dia nanti melihat BibirNya, yang sebelumnya pecah-pecah karena kehausan yang sangat, yang berbicara kepadanya dengan sebuah kata yang bersifat abadi: kasih ! Maka rasa syukurnya akan mengalir dan tak pernah berhenti....

Selamat tinggal ‘Veronica kecil’ yang terkasih, besok, tidak ragu lagi, Kekasihmu akan meminta kurban yang baru darimu, sebuah obat penyembuh yang baru bagi rasa hausNya.... dan kini marilah kita maju terus dan mati bersamaNya. (Bersambung)

Monday, February 16, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (VI)



VI


14 Juli 1889

Adikku yang terkasih. Aku selalu ada bersamamu didalam roh. Ya, memanag berat hidup di dunia ini, namun esok, dalam waktu yang sebentar saja, kita akan bisa beristirahat. Oh Tuhanku, apa yang akan kami saksikan nanti ? Bagaimanakah kehidupan yang tak memiliki akhir itu ? Tuhan akan menjadi Jiwa dari jiwa kita. Oh misteri yang tak terpecahkan. ‘Mata tidak melihat dan telinga tidak mendengar, dan apa yang dipersiapkan Tuhan bagi orang yang mengasihiNya tak bisa memasuki hati orang-orang itu’ (Luk.5:22). Dan semua ini akan segera terjadi, amat segera, jika kita sungguh mengasihi Yesus. Bagiku Tuhan tidak memerlukan waktu hingga bertahun-tahun untuk menyempurnakan karya kasihNya dalam suatu jiwa. Sebuah berkas cahaya dari dalam HatiNya dalam sesaat sudah bisa membuat bungaNya berkembang dan tak pernah layu lagi .... Cèline, selama saat-saat yang cepat berlalu ini yang masih tersisa bagi kita, marilah kita menyelamatkan banyak jiwa-jiwa. Aku merasa bahwa Mempelai kita meminta jiwa-jiwa dari kita, dan terutama jiwa dari para imam.... adalah Dia yang menyuruhku untuk mengatakan hal ini kepadamu.


Hanya ada satu hal untuk dilakukan disini: mengasihi Yesus dan menyelamatkan jiwa-jiwa bagi Dia agar Dia semakin dikasihi. Kita tak boleh meluputkan kesempatan yang terkecil sekalipun untuk memberikan kebahagiaan kepadaNya. Kita tak boleh menolak apapun permintaanNya. Dia amat membutuhkan kasih.


Kita ini laksana kembang bakungNya. Dia tinggal sebagai Raja ditengah-tengah kita. Dia membiarkan kita merasakan kehormatan dari KerajaanNya. Darah IlahiNya menyelimuti kelopak bunga kita. Dan Duri-duriNya ketika melukai kita, menebarkan aroma kasih kita. (Bersambung)

Saturday, February 14, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (V)



V



12 Maret 1899

.... aku harus melupakan dunia ini. Disini segala sesuatu mencemaskan aku, aku hanya menemukan satu kebahagiaan, yaitu penderitaan, dan kebahagiaan ini lebih dari pada kebahagiaan lainnya. Hidup ini cepat berlalu dan keabadian semakin dekat saja. Segera kita akan menjalani kehidupan Tuhan. Setelah kita dipenuhi didalam sumber dari segala kepahitan, maka rasa dahaga kita akan dipuaskan didalam Pancuran dari segala rasa manis.


“Gambaran dunia ini cepat berlalu” (Yoh.14:2). Segera kita akan melihat langit yang baru, matahari yang lebih berkilau akan menyala dengan lautan kristal yang berkilauan serta horison yang tak terhingga banyaknya. Kita tidak lagi menjadi tawanan di tanah yang asing, semuanya akan berlalu dan bersama Mempelai Surgawi kita akan berlayar diatas lautan luas tanpa batas. Kini ‘harpa kita bergantung diatas pohon yang tumbuh di tepi sungai-sungai Babilon’ (Luk.12:34), namun pada hari pembebasan kita nanti sukacita yang besar akan memancar, betapa kebahagiaan kita akan membuat senarnya bergetar ! Kini kita ‘meneteskan air mata jika mengingat Sion, sebab bagaimanakah kita bisa bernyanyi jika berada di tanah pengungsian ?’ (Zach.13:6). Beban dari nyanyian kita adalah berupa penderitaan. Yesus menawarkan sebuah piala yang amat pahit kepada kita. Marilah kita tidak menjauhkan bibir kita dari piala itu, tetapi menderita dengan damai. Dia yang berkata ‘damai’, tidaklah berkata ‘bahagia’, atau paling tidak, kebahagiaan yang bisa dirasakan, menderita dengan damai adalah cukup untuk mengirimkan semua yang dikehendaki oleh Tuhan kita. Jangan mengira kita bisa menemukan kasih tanpa penderitaan, karena sifat asli kita tetap ada dan harus diperhitungkan. Namun hal itu berarti menaruh harta yang besar didalam jangkauan kita. Penderitaan adalah kehidupan kita dan amat berharga sehingga Yesus datang ke dunia dengan tujuan untuk memiliki penderitaan itu. Kita harus bersedia menderita dengan murah hati dan mulia. Kita tak boleh terjatuh. Betapa itu adalah sebuah ilusi ! Apa artinya bagiku jika aku terjatuh setiap saat ? Dengan begitu aku menyadari kelemahanku dan aku mendapatkan keuntungan disitu. Tuhanku, Engkau tahu betapa kecilnya aku jika Engkau menggendongku di lenganMu. Dan jika Engkau meninggalkan aku sendirian, hal itu karena Engkau senang melihat aku tergeletak di tanah. Lalu mengapa aku merasa khawatir ?


Jika kamu ingin menanggung cobaan dengan damai, dan bukan merasa puas dengan dirimu sendiri, maka kamu harus memberi tempat tinggal bagi Guru Ilahimu didalam hatimu. Memang benar bahwa kamu akan menderita, karena kamu akan menjadi seperti orang asing di rumahmu sendiri. Tetapi janganlah takut, karena semakin miskin dirimu, semakin besar Yesus mengasihimu. Aku tahu bahwa Dia lebih berkenan melihat kamu terantuk pada batu jalanan di malam yang gelap, dari pada jika kamu berjalan di siang hari yang terang di jalan yang penuh dengan kembang-kembang, karena berbagai kembang ini bisa menghalangi kemajuanmu. (Bersambung)

Thursday, February 12, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (IV)

IV

28 Februari 1889

Adik kecilku yang terkasih. Yesus adalah merupakan ‘Mempelai Darah’ (Mat.19:14). Dia menginginkan bagi DiriNya semua darah dari jantung kita. Kamu memang benar, bahwa membutuhkan ongkos yang besar dari kita untuk memberiNya apa yang Dia minta. Tetapi betapa hal itu amat membahagiakan ! Sungguh menyenangkan untuk menanggung salib-salib kita dan merasakan kelemahan kita dalam menjalankan hal itu.


Cèline, jauh dari mengeluh kepada Tuhan atas salib ini, yang Dia kirimkan kepada kita ini, aku tak mampu menahan Kasih Yang Tak Terhingga yang telah berhasil menuntunNya memperlakukan kita seperti ini. Ayah kita yang terkasih juga dikasihi oleh Tuhan hingga dia menerima banyak penderitaan juga. Aku tahu bahwa dengan direndahkan seperti itu para kudus diciptakan dan aku juga tahu bahwa cobaan kita adalah laksana tambang emas bagi kita. Aku ini, yang hanya sebutir pasir saja, ingin mulai bekerja, meskipun aku tak memiliki keberanian ataupun kekuatan. Kini keinginan akan kekuatan ini akan membuat tugasku semakin mudah karena aku ingin bekerja demi kasih. Kemartiran kita sudah dimulai .... marilah kita maju untuk menderita bersama, adikku yang terkasih, dan marilah kita persembahkan penderitaan kita kepada Yesus demi keselamatan jiwa-jiwa. (Bersambung)

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (III)

III

Januari 1889

Cèline kecilku yang terkasih, Yesus menawarkan salib kepadamu, sebuah salib yang amat berat dan kamu merasa takut kalau-kalau kamu tak mampu memanggulnya tanpa menyerah. Mengapa ? Kekasih kita saja sampai terjatuh tiga kali di jalan menuju Kalvari, dan mengapa kita tidak meniru Mempelai kita itu ? Betapa ini merupakan karunia dari Yesus dan betapa besar Dia mengasihi kita hingga Dia berkenan memberi kita dengan kesedihan yang besar ini ? Keabadian itu sendiri tidaklah terlalu lama bagi kita untuk bisa layak memberkati Dia atas segala karuniaNya. Dia melimpahkan karuniaNya kepada kita seperti terhadap para kudus yang besar. Apakah rencana kasihNya bagi jiwa-jiwa kita ? Itu adalah rahasia yang akan dinyatakan kepada kita di Rumah Surgawi kita nanti, pada hari ketika ‘Tuhan akan menghapus semua air mata kita’ (St.Augustine).

Kini kita tak memiliki apa-apa untuk diharapkan di dunia ini, ‘malam-malam yang dingin segera berlalu’, agar kita boleh menderita sendirian. Perjalanan hidup kita ini amat menimbulkan rasa cemburu dan serafim di Surga merasa iri dengan kebahagiaan kita ini.

Pada suatu hari aku membaca kutipan yang cukup menarik: “Untuk bisa tunduk dan dipersatukan dengan Kehendak Tuhan adalah tidak sama. Ada perbedaan yang besar diantara kedua hal itu seperti antara persekutuan dengan persatuan. Didalam persatuan, masih terdapat dua, tetapi didalam persekutuan hanya ada satu. Ya, marilah kita menjadi satu dengan Tuhan terutama di dunia ini. Untuk itu kuta harus lebih dari pada sekedar tunduk, tetapi kita harus memeluk salib dengan sukacita. (Bersambung)

Wednesday, February 11, 2009

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (II)

II

20 Oktober 1888

Adikku yang terkasih, jangan biarkan kelemahanmu membuatmu tidak bahagia. Ketika di pagi hari kita merasa takut tak memiliki kekuatan untuk menjalankan keutamaan, itu adalah rahmat, itulah saatnya untuk ‘meletakkan kapak di akar pohon’ (Hal ini berkaitan dengan penyakit yang diderita oleh Marie. Setelah membaca tulisan ini, yang merupakan permintaan yang besar untuk boleh sering-sering menerima Komuni Kudus, maka Paus Pius X menyatakan hal itu sebagai ‘paling pantas’. Saat itu Thérèse berusia 15 tahun ketika dia menulis itu), dengan cara kita bergantung sepenuhnya kepada Yesus saja. Jika kita gagal, sebuah tindakan kasih akan bisa meluruskan segalanya, dan nanti Yesus akan tersenyum. Dia menolong kita seperti Dia tidak berbuat apa-apa. Dan air mataNya yang disebabkan oleh para pendosa terhapus bersih oleh kasih kita yang lemah ini. Kasih bisa berbuat segalanya. Tugas yang paling tidak mungkin akan terasa mudah dan manis oleh kasih. Kamu tahu bahwa Tuhan tidak terlalu memperhatikan besarnya perbuatan kita, ataupun kesulitan didalam melaksanakannya. Tetapi Dia melihat kepada kasih dengan apa kita melakukannya. Mengapa kita mesti merasa takut ?


Kamu ingin menjadi seorang kudus dan kamu bertanya kepadaku apakah hal ini tidak terlalu sulit. Cèline, aku tak akan menyarankan kamu untuk mengejar kesucian serafik dari jiwa-jiwa yang terhormat disana, tetapi lebih baik kamu menjadi ‘sempurna seperti Bapa Surgawimu yang sempurna’ (2 Kor.11:5). Kamu tahu bahwa mimpimu, yaitu mimpi kita, dan keinginan kita, bukanlah khayalan belaka, karena Yesus sendiri telah memberikan penggenapannya kepada kita sebagai sebuah perintah. (Bersambung)

Surat-surat Soeur Thérèse

Surat Soeur Thérèse kepada adiknya, Cèline (I).


I


JMJT
8 Mei 1888

Cèline yang terkasih, ada saat-saat ketika aku bertanya, apakah aku ini benar-benar berada didalam Karmel ?. Kadang-kadang aku tak bisa mempercayai hal itu. Apakah yang telah kulakukan bagi Tuhan hingga Dia melimpahkan banyak sekali rahmat kepadaku ?

Sebulan telah berlalu sejak kita berpisah. Tetapi mengapa kukatakan ‘berpisah’ ? Meskipun terbentang samudera luas diantara kita, tetapi jiwa kita tetap menyatu. Namun aku juga sadar bahwa dengan tidak memiliki kehadiran diriku disampingmu adalah merupakan penderitaan tersendiri dan jika aku mendengarkan suara hatiku aku akan meminta Yesus agar mengijinkan aku menanggung kesedihan juga untuk menggantikan dirimu. Tetapi aku tidak dikabulkan olehNya, seperti kamu tahu. Aku takut menjadi egois jika mengharapkan hal yang baik bagi diriku, yaitu penderitaan. Kamu memang benar. Hidup ini sering terasa berat dan pahit. Sungguh menyakitkan untuk memulai sebuah hari yang jelek, terutama ketika Yesus menyembunyikan DiriNya dari kasih kita. Apa yang dilakukan oleh Sahabat yang manis ini ? Tidakkah Dia melihat kesedihan serta beban berat kita ? Mengapa Dia tidak datang dan menghibur kita ?

Janganlah takut.... sebab Dia ada disini. Dia terus memperhatikan kita dan Dialah yang meminta dari kita rasa sakit ini, air mata ini.... Dia membutuhkan hal itu demi kepentingan banyak jiwa dan bagi jiwa kita sendiri dan Dia ingin memberi kita dengan ganjaran yang besar. Aku meyakinkan kamu bahwa sangat menyedihkan Dia untuk memenuhi kita dengan kepahitan. Tetapi Dia tahu bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan kita untuk mengenal Dia seperti Dia mengenali DiriNya sendiri dan untuk menjadikan kita bersifat ilahiah. Jiwa kita adalah agung dan tujuan hidup kita adalah mulia. Marilah kita meninggikan diri kita diatas segala hal yang cepat berlalu ini dan mempertahankan diri kita tetap jauh dari dunia ini. Diatas sana, suasana udaranya amat murni.... Yesus bisa menyembunyikan DiriNya tetapi kita tahu bahwa Dia ada disana. (Bersambung)