Monday, March 16, 2009

Surat kepada Suster Frances Teresa (I)


I


13 Agustus 1893.

Adikku yang terkasih, akhirnya keinginanmu terpenuhi. Laksana burung merpati yang dilepaskan dari atas perahu, engkau tak bisa menemukan tempat di dunia ini untuk beristirahat, engkau terus terbang di atas sayap-sayapmu mencari-cari tempat kediaman yang terberkati dimana hatimu menemukan rumahnya yang kekal. Yesus telah membuatmu tetap menunggu, namun akhirnya, tersentuh oleh tangisan yang mengharukan dari merpatiNya, Dia mengulurkan tanganNya yang ilahi, memegangnya, dan menaruhnya didalam HatiNya, yaitu tempat kudus dari KasihNya.

Kebahagiaanku ini benar-benar merupakan kebahagiaan rohani. Karena aku tak akan bisa melihatmu lagi, tak pernah mendengar suaramu lagi, sementara aku masih ingin mencurahkan isi hatiku kepadamu. Namun aku tahu bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara saja bagi kita yang berjalan menuju Rumah Surgawi. Apakah ada masalah jika jalan yang kita lalui ini berbeda ? Tujuan kita adalah sama, yaitu Surga dimana kita akan berjumpa, dan tak terpisahkan lagi.

Sementara itu kita harus hidup dengan berkurban. Tanpa kurban tak ada manfaatnya kehidupan religius. Seperti pernah dikatakan oleh seseorang pada waktu konperensi: “Alasan mengapa hutan pohon oak mendongakkan kepala kuncupnya hingga begitu tinggi karena dalam keadaan terkepung dari segala penjuru, ia tidak menyia-nyiakan air buahnya untuk menumbuhkan cabang-cabang dibawahnya, tetapi ia hanya berusaha tumbuh menjulang keatas. Begitulah yang terjadi didalam kehidupan religius dari suatu jiwa, dikungkung oleh aturan-aturan dan praktek kehidupan komunitas disekitarnya, ia dituntut untuk menemukan cara-cara guna mengangkat kepalanya tinggi-tinggi kearah Surga”.

Saudaraku yang terkasih, berdoalah bagi Thérèse kecilmu ini agar dia bisa memanfaatkan pengasingannya di dunia ini dan dari banyak sekali cara yang diberikan kepadanya untuk mendapatkan Surga. (Bersambung)