Thursday, December 10, 2009

Bersandar Kepada Tuhan (Bab 1)






Bab I


Kesempurnaan tertinggi dan paling utama dari manusia sejauh hal itu mungkin dilakukan di dunia ini


Aku memiliki ide untuk menulis sesuatu bagi diriku sendiri tentang keadaan abstraksi yang penuh dan lengkap dari segala sesuatu dan secara bebas bersandar dengan penuh percaya, polos, teguh, kepada Tuhan saja, yang bertujuan untuk untuk menjelaskan hal itu secara penuh (sejauh hal itu mungkin di tempat pengasingan dan peziarahan dunia ini), karena tujuan dari kesempurnaan kristiani adalah kasih, dengan apa kita akan bersandar kepada Tuhan. Kenyataannya, setiap orang wajib bersandar dengan penuh kasih kepada Tuhan, demi keselamatan mereka sendiri, dalam wujud melaksanakan perintah-perintah Tuhan dan menyatu kepada kehendak Ilahi dan melaksanakan perintah-perintah yang menganjurkan kita untuk menghindari sesuatu yang bertentangan dengan alam dan kasih, termasuk dosa berat. Para anggota dari ordo-ordo religius telah bertekad melaksanakan kesempurnaan evangelis dan segala sesuatu yang termasuk dalam tindakan kesempurnaan yang bersifat sukarela dan terarah, dimana dengan hal itu seseorang akan lebih cepat sampai kepada tujuan yang utama, yaitu Tuhan. Pelaksanaan dari komitmen tambahan ini belumlah termasuk pada hal-hal yang bisa menghalangi karya dan semangat kasih, dimana meski tanpa hal itu maka seseorang masih bisa sampai kepada Tuhan dan hal ini termasuk melakukan penolakan atas segala sesuatu, baik jasmani maupun rohani, persis seperti pada sumpah profesi religius. Karena Tuhan Allah adalah Roh, maka mereka yang menyembahNya haruslah melakukannya didalam roh dan kebenaran, dengan kata lain, dengan pengetahuan dan kasih, yaitu dengan pemahaman dan keinginan, dengan membuang semua bayangan-bayangan. Inilah yang dimaksud didalam Injil Mateus 6:6, ‘Jika kamu berdoa, masuklah kedalam kamarmu’ yaitu bagian dalam dari hatimu, ‘dan tutuplah pintu’, yaitu inderamu, dan disitu dengan hati yang tulus dan suara hati yang jernih, dan dengan iman yang teguh ‘berdoalah kepada Bapamu’ didalam roh dan kebenaran, ‘secara diam-diam’. Hal ini bisa dilaksanakan dengan baik jika seseorang tidak terlibat dan terpisah dari segala sesuatu yang lain dan benar-benar masuk kedalam dirinya. Disitu, didalam kehadiran Yesus Kristus, dengan segala sesuatu, secara umum dan secara khusus, dibuang dan dihapus bersih, hanya pikiran saja yang menghadap kepada Tuhan dengan penuh percaya dengan membawa segala keinginannya. Dengan cara seperti ini ia seperti mencurahkan atau menumpahkan dirinya kepada Dia dengan tulus, dengan segenap hati dan kerinduan kasihnya, di bagian yang paling dalam dari semua sifatnya. Dia tercebur, larut, menyebar, dan berkobar kedalam Tuhan.