Penjaga di Mezbah Allah
Penjaga
di Mezbah Allah
Ketika sikap diam, kebingungan, dan hilangnya
hal-hal yang sakral mulai membahayakan jiwa.
https://pillarsoffaith.net/podcasts/watchmen-at-the-altar/
Bishop Joseph E. Strickland
Saudara-saudari di dalam Kristus,
ada saat-saat dalam kehidupan Gereja ketika seorang gembala
merasakan beban yang tidak dapat diabaikan. Bukan tekanan politik. Bukan pula
badai media. Melainkan suatu kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah
yang hadir secara senyap namun mendesak. Sebuah kesadaran bahwa sikap
diam—betapapun itu terasa nyaman—maka itu bukan lagi bentuk kesetiaan.
Kita kini hidup di saat seperti itu.
Gereja tidak pernah ditinggalkan Kepalanya. Kristus tetap menjadi
Kepala Gereja. Ia hadir dalam Ekaristi. Ia setia pada janji-janji-Nya. Namun,
banyak umat beriman merasa gelisah. Mereka merasa kehilangan arah. Mereka sulit
mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi mereka merasakan bahwa sesuatu yang
berharga telah melemah, sesuatu yang esensial telah menjadi kabur. Umat beriman
merasakan kebingungan—bukan hanya di dunia luar sana, melainkan di dalam Gereja
itu sendiri. Dan kebingungan tidak pernah bersifat netral.
Dalam Kitab Suci, Tuhan berfirman kepada nabi Yehezkiel dan
membebankan tanggung jawab yang berat kepadanya. Tuhan menyebutnya sebagai
seorang penjaga. Seorang penjaga tidak diminta untuk meramalkan bahaya atau
mengada-adakan ancaman. Penjaga hanya diperintahkan untuk tetap terjaga,
melihat dengan jelas, dan memberikan peringatan saat bahaya mendekat. Jika ia
gagal melakukan hal itu, Tuhan berfirman bahwa darah orang-orang yang celaka
akan dituntut dari tangannya.
Gambaran itu telah lama melekat di hati saya. Sebab, para uskup
tidak dipanggil sekadar untuk mengelola lembaga atau menjaga ketenangan. Kita
dipanggil untuk mengawasi, menjaga, dan bila perlu, untuk bersuara—bahkan
ketika bersuara menuntut pengorbanan.
Bahaya terbesar yang dihadapi Gereja saat ini bukanlah
penganiayaan dari luar. Gereja telah bertahan menghadapi kaisar-kaisar,
revolusi, penjara, dan kemartiran. Gereja telah selamat melewati berbagai hal
yang jauh lebih buruk daripada sekadar kritik atau permusuhan.
Bahaya yang lebih mendalam saat ini adalah kebingungan di dalam
diri. Kebingungan mengenai apa yang diajarkan oleh Gereja. Kebingungan mengenai
apa yang dapat diubah dan apa yang tidak. Kebingungan mengenai hakikat belas
kasih, ketaatan, ibadah, dosa, bahkan mengenai Allah itu sendiri.
Sebagian besar umat Katolik yang setia tidak bersikap memberontak.
Mereka tidak marah. Mereka hanya berusaha untuk tetap setia—dan mereka
memohon kejelasan.
Mereka (umat) bertanya-tanya mengapa pengajaran yang jelas, sering
sekali digantikan oleh ambiguitas yang disengaja. Mereka bertanya-tanya
mengapa berbicara secara terus terang dianggap sebagai tindakan yang memecah
belah, sementara sikap diam justru dipuji sebagai tindakan pastoral. Mereka (umat)
bertanya-tanya mengapa hal yang dulunya tampak kokoh kini terasa bisa
ditawar-tawar.
Kebingungan ini menyentuh segala aspek, namun tidak ada tempat
yang lebih merasakan dampaknya secara mendalam selain dalam ibadat utama Gereja—yakni
Kurban Misa Kudus.
Liturgi bukanlah sekadar salah satu aspek dari kehidupan Gereja di
antara banyak aspek lainnya. Liturgi adalah jantungnya. Di sanalah Gereja
belajar siapa Allah itu dan siapa dirinya dalam hubungannya dengan Allah.
Ibadat membentuk keyakinan. Cara kita berdoa membentuk cara kita berpikir, cara
kita menjalani hidup, dan cara kita memahami kebenaran.
Selama bertahun-tahun, banyak umat beriman merasakan hilangnya
kesakralan dalam liturgi. Hilangnya rasa hormat yang mendalam. Hilangnya
dimensi vertikal—yakni kesadaran bahwa kita sedang ditarik ke atas menuju
Allah, bukan sebaliknya: diarahkan ke dalam diri kita sendiri.
Banyak umat beriman menyadari bahwa keheningan hampir lenyap.
Kekaguman itu telah digantikan oleh informalitas. Bahwa altar lebih terasa
seperti meja pertemuan daripada tempat pengorbanan. Bahwa Tuhan tidak lagi
tampak sebagai pusatnya.
Ini bukan tentang nostalgia. Hal ini juga bukan berarti menolak
Misa atau mengingkari keabsahan Sakramen. Sebaliknya, ini adalah tentang
mengenali konsekuensi spiritual: ketika rasa akan kesucian memudar, keyakinan
pun melemah. Ketika ibadah menjadi horizontal, perlahan jiwa melupakan surga.
Ketika ibadah menjadi bersifat horizontal, tidak lagi vertikal, menuju kepada
Tuhan, maka jiwa dari banyak umat beriman perlahan-lahan melupakan surga.
Hal ini tidak terjadi dalam semalam. Dan hal
ini pun tidak muncul begitu saja tanpa sebab.
Konsili Vatikan II (KV II) sendiri menyerukan kesinambungan,
perkembangan yang organis, serta kesetiaan terhadap apa yang telah diwariskan. Konsili
tersebut secara eksplisit memperingatkan agar tidak melakukan inovasi yang
tidak perlu ataupun pemutusan hubungan dengan tradisi.
Namun, pada tahun-tahun setelah Konsili tersebut, diperkenalkan
berbagai perubahan yang jauh melampaui apa yang dibayangkan oleh para Bapa
Konsili. Rancangan liturgi yang bersifat eksperimental—meskipun tidak
mendapatkan persetujuan yang jelas—tetap memengaruhi perkembangan selanjutnya.
Praktik-praktik yang tidak pernah diamanatkan oleh Konsili justru menjadi
tersebar luas. Seiring berjalannya waktu, bentuk yang teratur digantikan oleh
ketiadaan bentuk, disiplin digantikan oleh improvisasi, dan transendensi
digantikan oleh suasana yang terlalu akrab atau biasa.
Saya menyampaikan hal ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk
mengakui kenyataan. Anda tidak dapat memulihkan apa yang Anda tolak untuk
disebut dengan namanya.
Ketika ibadah kehilangan pusatnya, segala sesuatu yang lain pun
mulai melenceng. Doktrin menjadi lebih sulit untuk dirumuskan. Ajaran moral
menjadi terasa tidak nyaman. Seruan untuk bertobat menjadi melemah. Dan belas
kasih pun secara diam-diam dipisahkan dari kebenaran.
Saat ini kita sering mendengar ucapan tentang ‘belas kasih’ – dan
memang sepatutnya demikian. Tanpa belas kasih, tak satu pun dari kita akan
mampu bertahan. Namun, saat ini makna belas kasih telah didefinisikan ulang.
Terlalu sering, belas kasih disajikan sebagai bentuk penerimaan suatu
perbuatan atau sikap, tanpa pertobatan, pendampingan tanpa arah, dan kasih
sayang tanpa kebenaran.
Ini bukanlah belas kasih Kristus.
Kristus mengampuni dosa, tetapi Kristus senantiasa memanggil
jiwa-jiwa untuk bertobat. Ia menyembuhkan, tetapi Ia juga memberikan
peringatan. Ia menghibur, tetapi Ia berbicara secara terus terang mengenai
dosa, penghakiman, dan kehidupan kekal.
Gereja yang menolak untuk memperingatkan jiwa-jiwa tentang adanya bahaya
bukanlah Gereja yang penuh belas kasih. Gereja justru sedang menelantarkan
mereka.
Dalam beberapa bulan terakhir, Gereja telah menyaksikan konsistori
para kardinal, dengan pertemuan-pertemuan lain yang diperkirakan akan menyusul.
Bagi banyak umat Katolik, peristiwa-peristiwa ini terasa jauh dan abstrak.
Namun, peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah hal yang sepele. Hal-hal itu
membentuk kepemimpinan Gereja di masa depan, mengungkapkan prioritas-prioritas
yang ada, serta memengaruhi bagaimana Gereja akan mengajar, beribadah, dan
menjalankan tata kelola selama beberapa dekade mendatang.
Itulah sebabnya momen ini sangat penting.
Keputusan yang diambil tanpa pemahaman sejarah yang jujur, tanpa
diagnosis yang jelas mengenai luka-luka Gereja, justru berisiko memperdalam
kebingungan alih-alih menyembuhkannya. Sikap diam tidaklah menjaga kesatuan.
Sikap menghindar tidaklah melindungi persekutuan. Kebenaran yang disampaikan
dengan kasihlah yang mampu melakukannya.
Banyak umat Katolik saat ini bergulat dengan pertanyaan yang
menyakitkan: bagaimana cara untuk tetap taat tanpa mengkhianati kebenaran?
Bagaimana cara untuk tetap setia tanpa harus berdiam diri? Bagaimana cara
mencintai Gereja sembari mengakui luka-luka yang dimilikinya?
Ketaatan sejati bukanlah penyerahan diri secara buta terhadap
kebingungan. Ketaatan sejati adalah kesetiaan kepada Kristus dan kepada Gereja,
sebagaimana yang senantiasa diajarkan oleh Gereja. Para orang kudus memahami
hal ini. Mereka tetap berada di dalam Gereja. Mereka menanggung kesalahpahaman.
Mereka berbicara dengan penuh hormat—dan dengan keberanian.
Ketaatan tidak pernah mengharuskan kita untuk menyangkal
kenyataan. Ketaatan tidak pernah menuntut kita untuk diam saat menghadapi
kekeliruan. Ketaatan tidak pernah meminta kita untuk berpura-pura bahwa
kebingungan adalah kejelasan.
Ini bukanlah saatnya untuk berputus asa. Kristus tidak pernah meninggalkan
Gereja-Nya. Namun, ini adalah saat untuk berjaga-jaga. Saat untuk menunjukkan
keberanian. Saat bagi para uskup untuk mengajar dengan jelas, bagi para imam
untuk beribadah dengan penuh hormat, dan bagi umat beriman untuk tetap teguh,
tekun berdoa, dan tak tergoyahkan.
Gereja tidak akan bisa diperbarui oleh rasa takut. Gereja tidak
akan bisa disembuhkan oleh ambiguitas. Gereja tidak akan bisa dikuatkan oleh
kebisuan.
Gereja akan diperbarui oleh kebenaran, dikuatkan oleh sikap
hormat, dan dipulihkan melalui kesetiaan kepada Kristus.
Sebab pada titik sekarang ini, krisis di dalam Gereja tidak lagi
dapat dijelaskan sebagai sekadar kurangnya informasi. Fakta-faktanya tidak
disembunyikan. Sejarahnya pun tidak tertutup untuk diakses. Buah-buahnya nyata
terlihat di setiap keuskupan—dalam seminari-seminari yang kosong, katekese yang
membingungkan, serta umat Katolik yang tidak lagi mengetahui apa yang
sebenarnya diajarkan oleh Gereja.
Yang kita hadapi saat ini bukanlah krisis pengetahuan. Ini adalah
krisis kemauan.
Selama lebih dari setengah abad, para uskup, teolog, dan pemimpin
Gereja telah memiliki banyak waktu untuk mempelajari apa yang terjadi, menelaah
apa yang dimaksudkan, apa yang telah dilaksanakan, serta apa yang telah
membuahkan hasil baik—dan apa yang tidak. Hilangnya rasa hormat bukanlah hal
yang luput dari perhatian. Runtuhnya keyakinan akan Kehadiran Nyata (Real
Presence) Kristus di dalam Ekariti telah didokumentasikan sejak beberapa dekade
silam. Pendataran bentuk ibadat, pendangkalan hal-hal yang sakral, serta
hilangnya keheningan—semua ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Namun, hanya sedikit yang diperbaiki. Bukannya karena hal itu
tidak bisa diperbaiki, melainkan karena perbaikan membutuhkan biaya yang besar.
Jauh lebih mudah untuk berbicara secara umum
daripada menyebutkan penyebab-penyebabnya. Jauh lebih aman untuk menegaskan
niat daripada menilai hasil akhirnya. Jauh lebih nyaman untuk mengulang-ulang
ungkapan tentang “menempuh perjalanan bersama” daripada menyatakan secara terus
terang bahwa upaya ini telah gagal, dan ada jiwa-jiwa yang harus menanggung
akibatnya.
Pada titik tertentu, mengulang-ulang bahasa yang sama menjadi
bentuk ketidakjujuran tersendiri. Dan di situlah kita berada sekarang.
Ketika para kardinal bertemu, ketika para uskup berkumpul, mereka
tidak sekadar berpartisipasi dalam momen-momen seremonial. Mereka sedang
menjalankan otoritas yang nyata. Mereka sedang membentuk masa depan Gereja. Dan
ketika momen-momen tersebut berlalu tanpa evaluasi yang jujur, pesannya menjadi
jelas, meski tidak diucapkan: kita tahu ada masalah, tetapi kita tidak
bersedia menghadapinya.
Keheningan itu berbicara dengan sendirinya.
Hal ini menyatakan kepada para imam bahwa sikap hormat adalah
(hanyalah) pilihan. Hal ini menyatakan kepada para seminaris bahwa kejelasan
adalah sesuatu yang berbahaya. Hal ini menyatakan kepada umat beriman bahwa apa
yang mereka rasakan di dalam hati mereka harus diabaikan. Dan seiring
berjalannya waktu, hal ini mengajarkan Gereja untuk menurunkan
ekspektasinya—terhadap ibadah, doktrin, bahkan kekudusan itu sendiri.
Inilah sebabnya mengapa situasi saat ini begitu krusial.
Satu konsistori lagi. Satu penataan ulang kepemimpinan lagi. Satu
kesempatan lagi—entah untuk menghadapi kenyataan, atau justru menghindarinya
sekali lagi.
Dan penghindaran atas suatu masalah selalu memiliki konsekuensi.
Sebab, ketika para pemimpin menolak untuk bertindak, beban
tersebut justru teralihkan ke tingkat di bawahnya. Para imam paroki dibiarkan
menghadapi ekspektasi yang mustahil untuk dipenuhi. Umat Katolik yang setia
dipaksa memilih antara tetap diam atau menaruh curiga. Kaum muda pun
menyimpulkan bahwa Gereja sebenarnya tidak benar-benar meyakini apa yang ia
ajarkan.
Itu bukanlah persatuan. Itu adalah pengikisan perlahan.
Haruslah dikatakan dengan jelas: masalahnya bukan lagi karena para
kardinal dan uskup tidak mengetahui situasinya. Masalahnya adalah banyak dari
mereka telah memutuskan bahwa lebih aman untuk tidak bertindak.
Lebih aman untuk tidak mengoreksi penyimpangan liturgi. Lebih aman
untuk tidak memulihkan sikap hormat. Lebih aman untuk tidak membela kebenaran
yang tidak populer. Lebih aman untuk tidak mengambil risiko dicap sebagai pihak
yang “kaku” atau “memecah belah.”
Namun, seorang gembala yang memilih keamanan daripada kebenaran
bukanlah sedang melindungi kawanan dombanya. Ia justru membiarkan domba-domba
dan diri mereka sendiri dalam keadaan rentan. Dan di sinilah letak
kesalahpahaman yang berbahaya mengenai arti dari ketaatan.
Ketaatan tidak berarti berpura-pura bahwa luka bukanlah luka.
Ketaatan tidak berarti memuji kebingungan sebagai suatu kompleksitas. Ketaatan
tidak berarti menyerahkan ibadah dan ajaran Gereja kepada semangat zaman.
Ketaatan sejati adalah kesetiaan kepada Kristus – bahkan ketika
kesetiaan itu mendatangkan penderitaan.
Para orang kudus tidak tinggal diam ketika iman dikaburkan. Mereka
tidak menunggu izin untuk membela apa yang senantiasa diajarkan oleh Gereja.
Mereka berbicara dengan penuh hormat, memang — tetapi mereka tetap berbicara!
Dan banyak yang menanggung akibatnya.
Jika kita jujur, harga itulah yang justru ditakuti banyak orang
saat ini. Bukan penganiayaan, melainkan hilangnya kedudukan. Bukan kemartiran,
melainkan peminggiran. Bukan kematian, melainkan disisihkan secara diam-diam.
Namun, Gereja tidak dibangun di atas keamanan karier. Gereja
dibangun di atas pengorbanan.
Itulah sebabnya hilangnya hal-hal yang sakral tidak bisa dianggap
sebagai persoalan sekunder. Ini bukan masalah estetika. Bukan pula masalah
antargenerasi. Ini adalah persoalan teologis.
Ketika ibadah tidak lagi secara jelas mengungkapkan pengorbanan,
transendensi, dan keutamaan Allah, maka Gereja itu sendiri mulai melupakan jati
dirinya. Dan ketika para pemimpin menolak untuk mengoreksi penyimpangan
tersebut—bukan karena mereka tidak melihatnya, melainkan karena mereka tidak
ingin menghadapinya—kerusakan yang terjadi pun semakin mendalam.
Pada titik tertentu, kasih terhadap Gereja harus lebih kuat
daripada rasa takut akan konsekuensi. Pada titik tertentu, para uskup dan
kardinal harus memutuskan apakah mereka puas sekadar mengelola kemunduran—atau
bersedia menderita demi pembaruan. Ini bukanlah seruan untuk memberontak.
Ini adalah seruan untuk bertanggung jawab.
Sebab, seorang penjaga tidak dinilai berdasarkan apakah
orang-orang mendengarkannya atau tidak. Ia dinilai berdasarkan apakah ia telah
memberikan peringatan. Dan saat untuk memberikan peringatan itu bukan lagi
sekadar akan tiba — sesungguhnya saat itu sudah tiba! Sekarang!
Jadi, saya ingin menyampaikan hal ini dengan jelas—saya
menyampaikannya pertama-tama kepada Tuhan, lalu kepada Anda.
SAYA TIDAK BISA TINGGAL DIAM.
Bukan karena saya merasa lebih bijaksana daripada orang lain.
Bukan pula karena saya menganggap diri saya berada di atas Gereja. Melainkan
karena saya adalah seorang uskup—dan seorang uskup bukanlah milik dirinya
sendiri.
Saya ditahbiskan untuk menjaga apa yang tidak
saya ciptakan. Untuk meneruskan apa yang tidak saya temukan. Untuk memberi
peringatan saat bahaya mengancam jiwa—bahkan ketika peringatan itu tidak
dikehendaki.
Ada saatnya ketika penggunaan bahasa yang hati-hati secara
berulang justru menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab. Saat kesabaran
berubah menjadi penundaan. Saat sikap menahan diri berubah menjadi penolakan. Saya
yakin kita telah melewati saat itu sekarang.
Jadi selama Tuhan memberi saya nafas dan jabatan, saya akan terus memperingatkan.
Saya akan berbicara ketika keheningan lebih mudah untuk dilakukan. Saya akan
menyoroti kebingungan ketika hal itu disamarkan sebagai kompleksitas. Saya akan
membela yang sakral jika hal itu dianggap opsional atau hanya pilihan belaka.
Saya tegaskan bahwa ibadah harus menempatkan Tuhan – bukan diri kita sendiri –
sebagai pusatnya.
Saya mengatakan ini bukan dengan kemarahan. Saya mengatakannya
dengan kesedihan. Dan dengan tekad.
Sebab suatu hari nanti, seorang uskup akan berdiri di hadapan
Kristus dan memberikan pertanggungjawaban—bukan mengenai seberapa baik ia
menghindari konflik, melainkan apakah ia telah melindungi kawanan yang
dipercayakan kepadanya.
Jika saya diabaikan, biarlah demikian. Jika saya dikritik, biarlah
demikian. Jika saya dikesampingkan, biarlah demikian.
Namun, saya tidak akan berdiri di hadapan Tuhan dan mengatakan
bahwa saya melihat bahaya tersebut, lalu memilih untuk diam.
Kepada rekan-rekan uskup, saya sampaikan hal ini dengan penuh
hormat dan urgensi: kita tidak lagi membutuhkan lebih banyak kajian, lebih
banyak proses, ataupun pernyataan-pernyataan yang disusun dengan kata-kata yang
sangat hati-hati. Kita membutuhkan keberanian. Kita membutuhkan kejujuran. Kita
perlu memulihkan rasa takut yang suci kepada Allah.
Kepada para imam, saya katakan: jagalah altar. Cintailah liturgi.
Ajarkan kebenaran, bahkan meski Anda harus menanggung risikonya.
Kepada umat beriman, saya katakan: janganlah tawar hati. Kristus
tidak akan pernah meninggalkan Gereja-Nya. Tetaplah berakar. Tetaplah penuh
hormat. Tetaplah setia. Berdoalah bagi para gembala Anda – terutama saat mereka
gagal.
Dan kepada kita semua, saya sampaikan hal ini:
Eorang penjaga tidak peduli atas bagaimana orang-orang menanggapi.
Ia bertanggung jawab atas apakah ia telah memberikan peringatan.
Dan saya berniat untuk memberikan peringatan dengan tekad yang
lebih kuat, dengan keberanian yang lebih besar, dan dengan semangat yang lebih
membara – di hari-hari mendatang.
Semoga Tuhan menganugerahkan kasih karunia kepada saya untuk
melakukannya dengan kerendahan hati, kesetiaan, dan ketekunan—sampai tiba hari dimana
Dia memanggil saya untuk memberikan pertanggungjawaban.
Dan kini, sebagai penutup, saya mengajak Anda untuk berhenti
sejenak dan menempatkan diri dengan tenang di hadapan Tuhan.
Semoga Allah Yang Mahakuasa memandang dengan belas kasih kepada
Gereja-Nya, yang terluka namun tetap dikasihi-Nya.
Semoga Ia menguatkan semua orang yang merasa bingung, lelah, atau
takut.
Semoga Ia memurnikan ibadah kita, memulihkan sikap hormat di
altar-altar kita, dan mengarahkan kembali hati kita kepada hal-hal yang kekal.
Semoga Tuhan menganugerahkan keberanian kepada para uskup-Nya,
kesetiaan kepada para imam-Nya, dan ketekunan kepada seluruh umat beriman yang
mencari-Nya dalam kebenaran.
Semoga Ia melindungi Anda dari keputusasaan, menjaga Anda dari
kesesatan, dan membuat Anda tetap teguh dalam iman yang diwariskan oleh para
rasul.
Dan semoga Allah Yang Mahakuasa memberkati dan melindungi Anda,
dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Uskup Joseph E. Strickland
Uskup Emeritus
