Klerus Adalah Alat Terbaik Dari Iblis...
Klerus Adalah Alat
Terbaik Dari Iblis
Untuk Menyebarkan
Ajaran Sesat
https://traditioninaction.org/religious/n279_Dev.htm
Dalam karyanya *Liberalism
is a Sin* (Liberalisme adalah Dosa), Romo Felix Sardà y Salvany menyatakan
dengan jelas bahwa kaum klerus tidak hanya mungkin menjadi kaum liberal—yang
dewasa ini kita sebut sebagai kaum progresivis—tetapi mereka juga telah menjadi
pemimpin gerakan-gerakan sesat sepanjang sejarah Gereja. Sesungguhnya, mereka
adalah sarana terbaik bagi Iblis untuk menyebarkan kesesatan. .
Jika kita memahami sejarah Gereja di masa lampau, di mana para uskup dan imam
memicu serta memimpin gerakan-gerakan sesat, kita tidak akan bersikap naif
dengan mengira bahwa hal itu tidak mungkin terjadi pada masa kini.
Faktanya, jika kita mencermati para Paus era Konsili hingga masa Leo XIV saat
ini, kita dapat melihat dengan jelas bahwa mereka telah mempromosikan
kekeliruan, penghujatan, dan kesesatan, sebagaimana telah diperingatkan oleh
Bunda Maria ‘Our Lady of Good Success’ dalam nubuat-nubuatnya. Sudah
sepatutnya umat beriman bersikap waspada dan menolak kekeliruan-kekeliruan
tersebut, serta senantiasa bertahan di dalam naungan Gereja Kudus kita untuk
berjuang merebutnya kembali dari tangan musuh-musuh progresivis yang telah
merampasnya.
Pastor Felix Sardà y Salvany
Liberalisme sangat terbantu—sayangnya, hal ini terjadi terlalu
sering—oleh kenyataan bahwa ada sejumlah rohaniwan yang ternyata terjangkiti
oleh kekeliruan ini. Dalam situasi demikian, logika yang ganjil dari sebagian
orang seketika mengubah pendapat atau tindakan seorang rohaniwan tertentu
menjadi argumen yang berbobot. Umat Katolik Spanyol telah mengalami
peristiwa-peristiwa semacam itu yang sangat memprihatinkan sepanjang sejarah.
Maka, sudah sepantasnya—seraya tetap menjaga sikap hormat yang semestinya terhadap
para imam—kita menyoroti hal ini dan bertanya dengan tulus serta iktikad baik:
Mungkinkah ada pelayan Gereja yang juga tercemar oleh paham Liberalisme?
Ya, pembaca yang budiman, sayangnya, memang ada pelayan Gereja yang berhaluan liberal. Ada penganut paham ini yang fanatik, ada yang moderat, dan ada pula yang sekadar terpengaruh oleh paham tersebut. Persis seperti yang terjadi di kalangan umat awam.
Seorang pelayan / utusan Tuhan tidak luput dari keharusan membayar
"upeti" yang menyedihkan akibat kelemahan manusiawi; akibatnya, ia
pun kerap membayar upeti tersebut dalam bentuk kekeliruan yang bertentangan
dengan Iman.
Lantas, apa yang mengherankan dari hal ini, mengingat hampir tidak ada ajaran sesat dalam Gereja Allah yang tidak dibela atau disebarluaskan oleh oknum rohaniwan? Sungguh, merupakan fakta sejarah bahwa tidak ada ajaran sesat yang pernah menimbulkan masalah besar atau berkembang pesat di abad mana pun tanpa terlebih dahulu mendapatkan dukungan dari kalangan rohaniwan.
Rohaniwan yang murtad merupakan sarana utama yang sangat dicari oleh Iblis untuk menjalankan upaya pemberontakan ini. Ia perlu menampilkan ajaran sesat tersebut seolah-olah memiliki bobot otoritas tertentu di mata mereka yang kurang waspada; untuk tujuan ini, tidak ada yang lebih menguntungkannya selain dukungan dari seorang pelayan Gereja. Dan karena, sayangnya, Gereja senantiasa memiliki rohaniwan yang moralnya telah rusak (jalan paling umum menuju kesesatan) atau yang dibutakan oleh kesombongan (penyebab lain yang sangat sering memicu segala bentuk kekeliruan), maka ajaran sesat pun tidak pernah kekurangan ‘rasul’ maupun pendukung dari kalangan gerejawi, dalam bentuk apa pun ajaran itu muncul di tengah masyarakat Kristen....
[Pastor Sardà y Salvany kemudian menguraikan selama dua halaman daftar
tokoh utama penyebar bidaah yang berstatus uskup dan imam, mulai dari Yudas
hingga para pemimpin rohaniwan di Prancis, Italia, dan Spanyol pasca-Revolusi
Prancis.]
Beberapa uskup di antaranya menyerukan—dan banyak yang menyambut baik
dalam surat-surat pastoral mereka—pengusiran Serikat Yesus yang tidak adil itu.
Bahkan hingga kini, di berbagai keuskupan Spanyol, terdapat kasus-kasus nyata
mengenai rohaniwan yang telah murtad dan—sebagaimana wajar dan logisnya—segera
menikah.
Perlu dicatat, bahwa dari zaman Yudas hingga ... [masa kini], mata
rantai para pelayan Gereja yang mengkhianati Tuan mereka dan menjual diri
kepada bidaah terus berlanjut tanpa putus.
Bersamaan dengan—dan bertentangan terhadap—tradisi
kebenaran, terdapat pula tradisi kesesatan di dalam masyarakat Katolik: Berbeda
dengan suksesi apostolik para pelayan yang setia, Neraka juga mempertahankan
suksesi iblis dari para pelayan Gereja yang sesat. Hal ini tidak perlu membuat
siapa pun merasa terkejut atau tersandung imannya. Dalam kaitan ini, marilah
kita ingat kembali perkataan Sang Rasul yang tidak lupa memperingatkan kita: "Sebab
di antara kamu harus ada perpecahan, supaya mereka yang tahan uji menjadi nyata
di tengah-tengah kamu." (1 Kor 11:19)