Setan Itu Tak Punya Lutut

 

Setan Itu Tak Punya Lutut

 

Diskusi tentang Berlutut dan Penerimaan Ekaristi

 

https://catholicexchange.com/the-devil-has-no-knees-on-kneeling-and-reception-of-the-eucharist/?mc_cid=abd97110e4&mc_eid=64c8a0fa3d

 

24 Oktober 2025

 

- By Patrick O'Hearn

Church Teaching,Opinion




 

Gambar tentang Santo Yohanes Penginjil memberikan Komuni Kudus kepada Bunda Maria. Jendela kaca patri ini berasal dari Kuil Pertobatan Santo Paulus di Cleveland, Ohio.

 

“Setan itu tidak memiliki lutut,” demikian pernyataan Bapa dari Gurun, Abba Apollo. Sungguh, setan tidak memiliki kerendahan hati, dan juga tidak memiliki tubuh. Serangannya terhadap Komuni Kudus bukanlah hal baru. Sejak zaman Kristus, ia telah berusaha menghapus kepercayaan akan Kehadiran Sejati Yesus. Seperti yang dicatat oleh Santo Yohanes, “Ini adalah perkataan yang sulit; siapakah yang dapat mendengarkannya?” (Yoh. 6:60). Banyak murid yang meninggalkan iman karena mereka tidak dapat menerima bahwa Yesus benar-benar hadir dalam Ekaristi.

 

Saat ini, perang melawan Komuni Kudus terus berlanjut. Di berbagai keuskupan di Amerika Serikat dan luar negeri, beberapa uskup dan kardinal telah melarang adanya pagar altar atau mereka menuntut Komuni hanya diberikan sambil berdiri dan di tangan. Di Keuskupan Charlotte, Carolina Utara, tempat berlutut portabel yang digunakan untuk para penerima Komuni di Katedral St. Patrick baru-baru ini disingkirkan, dan pagar altar di Sekolah Menengah Katolik Charlotte dilarang. Di Argentina, Uskup Agung Jorge Eduardo Lozano dari San Juan de Cuyo menulis: “Dalam perayaan Sakramen Inisiasi Kristen, para katekumen (dari segala usia) hanya akan menerima Komuni Kudus sambil berdiri dan di tangan,” seperti yang dilaporkan di LifeSiteNews dan InfoVaticana.

 

Tragisnya gereja-gereja tahun 1970-an yang merobohkan pagar altar; pagar yang masih ada kini kembali diserang. Alih-alih pagar yang megah, banyak tempat suci dibatasi dengan tali. Pagar altar adalah untuk menandai ambang batas antara tempat suci dan ruang utama gereja, melambangkan kesucian tempat suci tersebut. Pagar altar bukan sekadar arsitektur. Pagar itu juga menjaga kekhusyukan, melindungi Ekaristi agar tidak jatuh, dan memungkinkan umat beriman untuk berlutut dengan rendah hati. Berlutut untuk menerima Hosti Kudus di lidah sangat mengurangi risiko menjatuhkan Hosti itu. Kristus jatuh tiga kali dalam perjalanan ke Kalvari—mengapa kita membiarkan Tubuh Ekaristi-Nya jatuh berkali-kali karena penerimaan yang ceroboh? Komuni Kudus bukanlah permen Halloween; itu adalah perjumpaan paling intim dengan Tuhan semesta alam.

 

Saya sering bertanya-tanya bagaimana Bunda Maria menerima Yesus dalam Misa di masa Gereja awali (lihat gambar di atas). Para mistikus menceritakan bahwa ketika Santo Yusuf pertama kali menggendong Bayi Kristus, ia berlutut dalam penyembahan. Ia tidak menerima Yesus secara sakramental, namun ia menunjukkan kerendahan hati yang seharusnya menginspirasi kita semua. Tentu saja, tidak semua orang mampu berlutut secara fisik, tetapi jika Anda bisa, Anda harus mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.

 

Berlutut juga membawa kekuatan spiritual. Seorang pengusir setan, Romo Benediktus (nama samaran), yang saya wawancarai untuk buku yang saya tulis bersama, The Most Powerful Saints in Exorcisms: What Exorcists Want You To Know, menceritakan sebuah kasus luar biasa:

 

Pastor Benediktus pernah menceritakan sebuah pengusiran setan yang terjadi di Amerika Tengah yang melibatkan seorang remaja laki-laki yang mencoba melakukan pembunuhan. Remaja itu telah berhubungan dengan sekte Setan di Amerika Serikat melalui internet. Salah satu instruksi dari sekte Setan itu adalah untuk melakukan jenis pembunuhan tertentu. Hakim yang murah hati mengatakan bahwa ia akan membebaskan remaja itu kepada orang tuanya dengan satu syarat: bahwa ia harus dibawa ke Pastor Benediktus untuk dilakukan pengusiran setan. Pastor Benediktus membawa keluarga itu ke kapel adorasinya dan meminta keluarga itu berdoa Rosario bersamanya. Pastor Benediktus kemudian mulai memberkati setiap anggota keluarga dengan minyak suci. Setiap anggota keluarga berlutut, tetapi iblis tidak mengizinkan remaja laki-laki itu berlutut. Pastor Benediktus menambahkan bahwa "iblis tidak akan mau berlutut, dan mereka yang dirasukinya juga tidak dapat berlutut. Iblis tidak akan membiarkan mereka berlutut."

 

Saya sering mengenang kembali Komuni Kudus Pertama saya sendiri. Meskipun itu adalah hari terhebat dalam hidup saya, pada saat itu terasa biasa saja. Saya diajari untuk membuat "singgasana" dengan tangan saya dan menerimanya tanpa banyak rasa hormat sampai kuliah. Bertahun-tahun kemudian, saya menyaksikan putra saya menerima Komuni Kudus Pertamanya di lidah sambil berlutut, dan saya dipenuhi dengan sukacita. Tindakan sederhana dan rendah hati itu menyembuhkan sebagian besar penyesalan yang saya rasakan karena menerima Tuhan kita dengan begitu santai.

 

Sayangnya, saya juga pernah melihat imam yang menentang Komuni di lidah. Suatu kali, salah satu imam memaksa memberikan Hosti Kudus dengan kasar ke lidah saya, menekan ibu jarinya ke tenggorokan saya. Mulut saya sakit selama beberapa hari. Imam yang sama juga mematahkan Hosti Kudus saat membagikan Hosti Kudus kepada bibi saya hingga melukai bibirnya. Ketidak hormatan seperti itu melukai jiwa dan menjauhkan mereka. Selama COVID, banyak imam lebih takut pada kuman daripada dosa, menolak Komuni di lidah—faktor lain dalam meluasnya ketidakpercayaan terhadap Kehadiran Nyata saat ini. Rasa hormat menarik kita kembali kepada Tuhan; ketidak hormatan menjauhkan kita.

 

Sebagian orang berpendapat bahwa Ekaristi Kudus tidak boleh "dijadikan senjata" melawan politisi pro-aborsi. Namun iblis telah menjadikannya senjata—dengan menabur ketidakpercayaan pada Kehadiran Sejati dan mempromosikan ketidak hormatan dalam penerimaanNya. Para martir tidak mati untuk sebuah simbol. Mereka mati untuk Yesus Kristus—Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian—yang benar-benar hadir dalam Sakramen Mahakudus.

 

Berlutut adalah salah satu tindakan kerendahan hati dan penghormatan yang paling mendalam. Berlutut mengajak kita menyatakan bersama Santo Paulus: “Di dalam nama Yesus, hendaklah setiap orang berlutut, baik di surga maupun di bumi dan di bawah bumi” (Filipi 2:10), supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

 

Setan gemetar dan takut melihat orang-orang yang menerima Tuhan kita dengan kerendahan hati dan kesalehan yang terbesar, karena setan itu tak punya lutut !

 

Popular posts from this blog

LDM: PERMINTAAN DARI ALLAH BAPA

LDM, 17 NOVEMBER 2025

LDM, 30 September 2024, Rahasia ketiga